KABARHARMONI | BANDUNG, – KONI Kota Bandung di bawah kepemimpinan Dr. Nuryadi, M.Pd., berkomitmen untuk meningkatkan prestasi atlet dan mengembangkan sport tourism sebagai pengungkit ekonomi lokal.
Dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung, Nuryadi memaparkan strategi dan tantangan pembinaan olahraga di tingkat daerah.

Tantangan dan Konsentrasi di Tengah Kualifikasi
Saat ini, konsentrasi KONI Kota Bandung sedikit tersita dengan persiapan babak kualifikasi Porprov Jabar.
Tiga kota, Depok, Bogor, dan Bekasi, akan menyelenggarakan Porprov XV 2026.
Perubahan dan penambahan nomor pertandingan menjadi 220 nomor turut memengaruhi strategi kontingen Bandung.
Visi Besar: Dari Bandung untuk Olimpiade
Meski sibuk dengan event regional, visi KONI Kota Bandung jauh lebih besar.
Target jangka pendek adalah meloloskan sebanyak-banyaknya atlet di babak kualifikasi menuju Porprov XV 2026.
Sementara target jangka panjangnya sangat ambisius, meningkatkan keterwakilan atlet Kota Bandung di Olimpiade 2028.
“Kontribusi kita di PON dan Sea Games sudah signifikan. Di PON Solo saja, atlet Bandung menyumbang 30% dari total medali Jawa Barat,” ujar Nuryadi.
Baca Juga: Komitmen Kota Bandung dalam Mencetak Prestasi Olahraga Pada Porprov 2026
Peningkatan SDM: Kunci Keberhasilan Prestasi
Nuryadi menekankan bahwa peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci.
KONI Kota Bandung membina sekitar 16.000 atlet dan 2.500 pelatih dari 80 cabang olahraga. Untuk memastikan kualitas pelatih,
KONI gencar melakukan Uji Kompetensi (Ujikom) bekerja sama dengan BNSP.
Baca Juga: Kerja Sama USB dengan KONI Kota Bandung, Sejalan dengan Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Olahraga Sebagai Penggerak Ekonomi: Sport Tourism
Nuryadi melihat olahraga sebagai sektor ekonomi yang potensial.
Bandung mewujudkan visi Unggul dan sebagai kota jasa dengan menyelenggarakan event-event olahraga yang mendongkrak perekonomian.

“Bayangkan jika setiap pekan ada event olahraga. Dampaknya pada okupansi hotel, UMKM, dan ekonomi kreatif akan sangat besar,” ujarnya bersemangat.
Keterbatasan Infrastruktur dan Solusi Kolaboratif
Nuryadi mengakui bahwa keterbatasan sarana dan prasarana olahraga merupakan tantangan terbesar.

Saat ini, hanya ada 16 venue yang memadai untuk event level lokal hingga internasional.
Bahkan, 17 cabor (bela diri) harus berbagi tempat dan memanfaatkan sarana lembaga pendidikan dan institusi kemiliteran.
Baca Juga: Venue Khusus Bela Diri Akan Dibangun untuk Mendukung Prestasi Atlet Muda
Sinergi dan Mental Juara
Nuryadi mengakui bahwa faktor penentu kemenangan (80%) adalah mental.
Untuk itu, KONI tak hanya membina fisik dan teknik, tetapi juga mental atlet.
KONI, pengurus cabang olahraga (Pengcab), orang tua, dan pemerintah kota (Pemkot) melalui Dispora dan Disdik bekerja sama dengan solid. Red







Komentar