KABARHARMONI | BANDUNG, – Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) menjadi pusat dialog kebijakan luar negeri dengan menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) Pernyataan Pers Tahunan Menlu 2026 dan Bincang Polugri di Aula PT INTI (Kampus sementara UKRI) pada Rabu, 14 Januari 2026.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menggagas kegiatan ini untuk menandai kolaborasi strategis antara pemerintah dengan dunia kampus.
UKRI Apresiasi Kerja Sama dengan Kemlu
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UKRI, Dr. Heni Haryani, S.Pd., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan rasa terhormat atas kepercayaan Kemlu yang memilih UKRI sebagai mitra akademik.

“Pernyataan pers tahunan Menlu tidak hanya menyampaikan capaian, tetapi juga menjadi refleksi posisi Indonesia di tingkat global. Mulai dari isu geopolitik, perdamaian dunia, hingga kerja sama internasional,” ujar Heni Haryani.
BACA JUGA: Pemkot Bandung dan Singapura Jajaki Kerja Sama Strategis Dalam Berbagai Sektor
Acara Terbuka untuk Umum
Kementerian Luar Negeri membuka Nobar Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026 dan bincang Politik Luar Negeri (Polugri) untuk umum dan sivitas akademi.
208 mahasiswa UKRI dari berbagai Fakultas dan undangan eksternal dari lima perguruan tinggi di Kota Bandung menghadiri acara tersebut.
Bincang Polugri: Diplomasi Indonesia di Era “Survival Mode”
Dalam sesi bincang Polugri, menghadirkan narasumber utama, Duta Besar Adam Mulawarman Tugio anggota Governing Council Indonesia ASEAN Institute for Peace & Reconciliation.

Dipandu oleh Wakil Rektor UKRI, Suhaeri S. Sos., M.I.Kom., sebagai moderator; dan dosen Prodi Ilmu Komunikasi UKRI, Dr. Muh. Resa Yudianto Suldani, S.S., M.A., sebagai penanggap.
Menurut Dr. Heni, bagi dunia akademik, khususnya mahasiswa, kegiatan semacam ini merupakan sarana pembelajaran yang sangat penting.
Mahasiswa dapat langsung menyimak arah kebijakan luar negeri Indonesia yang aktual, faktual, dan relevan dengan tantangan global saat ini.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memperoleh kewawasan luas, menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara global. Serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan dalam diplomasi damai,” tambahnya.
BACA JUGA: Rektor USB YPKP dan Duta Besar Sudan untuk RI Tandatangani Kerja Sama Tri Dharma Perguran Tinggi
Diplomasi Indonesia: Antisipatif dan Adaptif
Dalam diskusi bertajuk “Bincang Polugri”, Duta Besar Adam M. Tugio, Anggota Governing Council Indonesia ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR), bersama penanggap Dr. Muh. Resa Yudianto Suldani, S.S., M.A., membedah substansi PPTM 2026.
Dunia tengah memasuki fase “survival mode“, dengan melemahnya hukum internasional, meningkatnya hard power, dan ketertinggalan institusi global, menurut analisis Kemlu.
Situasi ini, menurut narasumber, meningkatkan risiko konflik dan menciptakan “ruang abu-abu” antara perdamaian dan perang.
Diskusi menekankan pergeseran paradigma politik luar negeri Indonesia, yang kini tidak hanya soal positioning. Tetapi menjadi instrumen strategis membangun ketahanan nasional.
Indonesia mengacu pada prinsip “foreign policy begins at home” dengan kerangka dynamic-resilience yang antisipatif dan adaptif dalam diplomasi.
Capaian Diplomasi Indonesia
Para narasumber mengapresiasi capaian diplomasi Indonesia yang berperan sebagai agenda setter. Seperti partisipasi dalam OECD dan BRICS, kepemimpinan di Dewan HAM PBB, serta penguatan kemitraan strategis.
Diplomasi ketahanan mencakup ketahanan ekonomi, perlindungan WNI di luar negeri, hingga dukungan pada program Makan Bergizi Gratis.
Dr. Resa Yudianto menekankan perlunya memperkuat SDM, struktur, dan kelembagaan. Untuk menyampaikan capaian diplomasi kepada publik dengan lebih cepat dan efektif.
Mahasiswa Berkontribusi dalam Diplomasi
Pada sesi tanya jawab, peserta aktif menyoroti pentingnya stabilitas kawasan, penguatan sentralitas ASEAN, keterlibatan dengan kawasan Pasifik, hingga reformasi PBB.

Mereka melihat keaktifan Indonesia di forum multilateral sebagai strategi untuk memperkuat daya tawar Global South.
Kejutan istimewa datang dari Dubes Adam Mulawarman Tugio yang mengumumkan bahwa Kemlu akan mengundang dua mahasiswa perwakilan peserta. Untuk berkunjung ke Pejambon (Kantor Kemlu) dan mengikuti sesi temu khusus dengan Menteri Luar Negeri RI.
“Mekanisme pemilihan mahasiswa akan ditentukan pihak universitas atau panitia,” ujarnya, disambut riuh rendah tepuk tangan peserta.
Kuis Interaktif Menutup Acara
Suhaeri, S.Sos, M.I.Kom., memoderatori acara ini dan menutupnya dengan kuis interaktif.

Kegiatan ini efektif menyebarkan kebijakan luar negeri dan memperkuat pemahaman generasi muda bahwa diplomasi adalah bagian integral dari ketahanan nasional. Red







Komentar