KABARHARMONI | BANDUNG, – Keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang bagi Maulana Yusuf As-Shauqi.
Uqi, panggilan akrab Maulana Yusuf As-Shauqi, membuktikan bahwa kreativitas mampu menembus batas.
Alumni Artherapy Center (ATC) Widyatama itu berhasil memajang karyanya di Bandara Internasional Husein Sastranegara Kota Bandung.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian Asia Afrika Festival 2026.
Selain itu, karya Uqi juga mendapat apresiasi luas karena menunjukkan potensi besar penyandang disabilitas dalam dunia seni dan industri kreatif.
ATC Widyatama Bangga, Karya Alumni Masuk Ruang Publik
Direktur Artherapy Center Widyatama, Firli Herdiana, menyampaikan rasa bangganya atas capaian Uqi.
Ia menyebut Uqi sebagai salah satu alumni yang mampu memberikan dampak nyata melalui karya.

“Uqi merupakan alumni dari Artherapy Center Widyatama. Dengan karyanya dia mampu memberikan dampak. Salah satu karyanya terpilih di Asia Afrika Festival tahun 2026 dan juga karyanya dipajang di Bandara Husein Sastranegara,” ujar Firli di Universitas Widyatama, Kamis, 3 September 2026.
Lebih lanjut, Firli menjelaskan bahwa ATC Widyatama secara konsisten mengembangkan bakat peserta didik hingga memiliki nilai jual.
Lanjutnya, industri telah menerima sejumlah karya peserta didik dan alumni ATC untuk kebutuhan merchandising maupun pembuatan jingle.
“Dari kesenangan sebetulnya, apa yang mereka suka kita kembangkan menjadi suatu bentuk yang bernilai jual. Alhamdulillah karya-karyanya sudah mulai diterima oleh industri,” katanya.
Tidak hanya Uqi, Galeri Nasional Jakarta juga memamerkan karya alumni lainnya seperti Abian dan Lutfi.
Karya mereka lolos kurasi bersama seniman disabilitas dari luar negeri.
Bukti Nyata: Keterbatasan Bukan Akhir Kreativitas
Firli menegaskan, keberhasilan Uqi menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi.
Potensi itu akan berkembang jika mendapat lingkungan, pendidikan, dan dukungan yang tepat.
“Setiap anak punya kreativitas dan punya potensi. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan wadah dan pendidikan yang tepat,” tutur Firli.
Untuk itu, ia mendorong penguatan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, industri, dan pemerintah.
Menurutnya, sinergi tersebut penting untuk menciptakan ekosistem yang inklusif dan ramah disabilitas di Kota Bandung.
BACA JUGA: Fajar Mengatasi Tantangan Disabilitas Netra, Berhasil Membaca Al-Qur’an Braille
Perjalanan Panjang Uqi, dari Coretan Kecil hingga Bandara
Bagi keluarga, pencapaian Uqi merupakan hasil dari perjalanan panjang.
Ayah Uqi, Nana Sutisna, menceritakan ketertarikan anaknya pada gambar sudah terlihat sejak usia dini.
“Memang dari kecil sudah kelihatan. Kalau dikasih buku, dia senangnya bukan ABCD, malah bikin bulat-bulat, disambung-sambung sampai hampir membentuk binatang,” tutur Nana.
Seiring waktu, bakat itu terus berkembang.
Uqi pernah menempuh pendidikan di SLB Cicendo.
Ketertarikannya pada dunia visual semakin kuat saat ia mengikuti ekstrakurikuler dan mempelajari komputer di SMK.
Saat mencari jenjang pendidikan tinggi, Nana sempat kesulitan.
Ia bingung menentukan jurusan dan universitas yang menerima penyandang disabilitas.
“Saya sempat bingung, ini anak saya harus disalurkan ke mana. Jurusan apa, universitas mana yang bisa menerima anak disabilitas,” katanya.
Akhirnya Nana mendapat informasi mengenai Universitas Widyatama.
Uqi sempat masuk kelas reguler, namun kemudian pindah ke ATC Widyatama karena merasa lebih sesuai dengan lingkungan pembelajaran di sana.
Menurut Nana, kemampuan menggambar Uqi meningkat pesat selama di ATC Widyatama.
Setelah lulus, ia kembali meminta bantuan ATC agar kemampuan anaknya tidak berhenti.
Hasilnya, Uqi mendapat ruang untuk terus berkarya, termasuk dalam bidang fotografi.
Dorongan untuk Ekosistem Inklusif dan Kesempatan Kerja
Selain mengasah kemampuan, ATC Widyatama juga mengarahkan karya peserta didik agar memiliki nilai ekonomi.
Hal ini sejalan dengan harapan Nana agar penyandang disabilitas mendapat kesempatan kerja sesuai potensi.
“Harapannya, anak-anak disabilitas jangan disepelekan. Kalau bisa diangkat sesuai dengan kemampuannya,” kata Nana.
Ia juga berharap pemerintah membuka akses lebih luas bagi penyandang disabilitas, termasuk untuk menjadi aparatur negara sesuai ketentuan yang berlaku.
“Bukan untuk anak saya saja, tetapi untuk semua anak disabilitas. Mudah-mudahan bisa diangkat sesuai dengan kemampuannya,” ujarnya.
Kisah Uqi menjadi pengingat bahwa ruang apresiasi dan pendidikan inklusif mampu melahirkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga menginspirasi. Red







Komentar