KABARHARMONI | BANDUNG, – Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, memiliki program inovatif untuk mengatasi persoalan sampah, yaitu Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah).
Warga, khususnya di RW 01 hingga RW 11 Kelurahan Sarijadi, menggerakkan langsung program ini.
Gerakan Samber Ceu Pilah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya
Lurah Sarijadi, Evi Sjopiah Tusti, menjelaskan bahwa warga melakukan Samber Ceu Pilah dengan memilah sampah sesuai jenisnya dan mengolahnya secara mandiri di rumah atau bersama-sama di lingkungan RW melalui sosialisasi masif.

“Bagi rumah warga yang sudah melaksanakan pemilahan sampah, kami tempelkan stiker Ceu Pilah sebagai tanda bahwa sampahnya sudah selesai di sumber,” jelasnya Evi.
Melalui pola ini, Sarijadi berhasil menekan pembuangan sampah ke TPS dan TPA. Sekaligus mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi dan ekologis.
Warga menyerahkan sampah anorganik bernilai atau rongsok kepada petugas sampah untuk didaur ulang.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Apresiasi Penggiat Buruan Sae dalam Peringatan Hari Tani Nasional 2025
Pengelolaan Sampah Anorganik dan Organik yang Efektif
Warga mengumpulkan berbagai jenis rongsok, seperti duplex, arsip, dus, kaleng, emberan, besi, kabel, aro, beling, dan daimatu.
Berdasarkan perhitungan, volume sampah an-organik bernilai mencapai sekitar 167 kilogram setiap dua hari.
Sampah ini tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber penghasilan bagi petugas dan komunitas pengelola.
Petugas mengolah sampah anorganik residu menjadi biomasa dan menjualnya ke pabrik tekstil untuk dijadikan bahan bakar co-firing limbah batubara.

“Manfaatnya bukan hanya untuk warga, tetapi juga industri. Pabrik menjadi lebih efisien karena limbah batubara bisa dikurangi,” ujar Evi Sjopiah Tusti, Lurah Sarijadi.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Proyek Pembangunan Ulang TPST untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Hasil Positif Samber Ceu Pilah: Ekonomi Warga Meningkat, Lingkungan Lebih Sehat
Setiap dua hari, pengelolaan sampah an-organik residu ini mencapai sekitar 289 hingga 300 kilogram, yang sebelumnya berpotensi menumpuk di TPS.
Potensi terbesar Samber Ceu Pilah justru datang dari sampah organik berupa sisa makanan, tulang, duri, biji, cangkang, sisa nasi, dan sisa sayuran.
Warga mengolah seluruhnya menjadi MOL (Mikro Organisme Lokal), POC (Pupuk Organik Cair), serta kompos atau POP (Pupuk Organik Padat).
BACA JUGA: Di RW. 07 Sarijadi, Olah Sampah Hasilkan Biomass Compact Fuel
Manfaat MOL dan POC antara lain:
– Menghilangkan bau sampah
– Mempercepat proses pembusukan
– Menyuburkan tanaman, sayuran, buah, dan bunga
BACA JUGA: Wali Kota Bandung, Farhan Ingatkan Warga Kawasan Utara Siaga Bencana Longsor dan Lingkungan
Peran Aktif Ibu-Ibu PKK dalam Menggerakkan Perubahan
Keberhasilan Samber Ceu Pilah tidak lepas dari peran aktif ibu-ibu PKK yang menjadi motor penggerak perubahan perilaku.
Kelurahan, RW, dan RT melakukan edukasi berjenjang dan memantau laporan harian aktivitas pemilahan sampah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi pendekatan tersebut.

“Kalau sampah selesai di rumah, kota ini akan jauh lebih ringan bebannya. Dan yang paling konsisten menggerakkan perubahan itu memang ibu-ibu,” ujar Farhan.
Dengan pengurangan signifikan timbulan sampah, peningkatan ekonomi warga, hingga kontribusi terhadap ketahanan pangan dan industri ramah lingkungan,
Samber Ceu Pilah Sarijadi layak menjadi model pengelolaan sampah berbasis RW dan kelurahan di Kota Bandung.

Farhan mendorong semua pihak untuk memperkuat dan mereplikasi praktik ini ke wilayah lain, supaya Kota Bandung jadi lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Red







Komentar