KABARHARMONI | BANDUNG, – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung akan mengintensifkan penanganan tunawisma, gelandangan, dan pengemis dalam rangka menjaga ketertiban, kenyamanan, serta citra kota menjelang long weekend.
Mereka turun ke lapangan, menjaga ketertiban, kenyamanan, serta citra kota menjelang long weekend.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa menyebutkan, secara umum kelompok tunawisma terbagi ke dalam tiga kategori utama, yakni gelandangan, pengemis, dan pemulung.

Peningkatan Jumlah Tunawisma
Dinsos Kota Bandung mencatat terjadinya peningkatan jumlah tunawisma, gelandangan, dan pengemis.
Data menunjukkan:
– Gelandangan: 156 orang (2025) naik dari 113 orang (2024)
– Pengemis: 223 orang (2025) naik dari 188 orang (2024)
– Pemulung: 57 orang (2025) naik dari 41 orang (2024)

Dinsos Kota Bandung melakukan penertiban dan penanganan untuk menjaga ketertiban dan citra kota.
BACA JUGA: Penurunan Penerima Bansos di Kota Bandung: Kemiskinan Turun, Data Lebih Akurat
Asal Daerah Tunawisma
Yorisa menjelaskan, asal daerah para tunawisma cukup beragam.
Untuk gelandangan, mayoritas berasal dari luar Kota Bandung, yakni 125 jiwa, sementara 31 jiwa merupakan warga Kota Bandung.
Daerah asal terbanyak berasal dari Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat.
Hal serupa juga terjadi pada pengemis dan pemulung, yang sebagian besar berasal dari luar kota, bahkan tercatat 10 orang tunawisma berasal dari luar Pulau Jawa pada 2025.
Penanganan Kolaboratif
Keberadaan tunawisma tersebut, lanjut Yorisa, menimbulkan berbagai persoalan sosial.
Mulai dari masalah kesehatan seperti risiko penyakit menular, gangguan ketertiban dan keamanan, hingga menurunnya keindahan kota.
Masyarakat juga sering keluhkan praktik mengemis paksa di beberapa titik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Bandung terus melakukan penanganan secara kolaboratif.

Dinsos bekerja sama dengan Satpol PP, Damkar, DLH, DPKP, DP3A, serta unsur kewilayahan dalam melakukan penjangkauan dan penertiban secara rutin.
Aksi Penertiban Gabungan
Pemkot Bandung akan laksanakan aksi penertiban gabungan buat beautifikasi kota, mulai Jumat dini hari sampai Minggu, dan lanjutkan patroli siang-sore.

Penertiban ini menyasar gelandangan, pengemis, hingga manusia gerobak yang kerap beraktivitas di ruang publik.
“Penanganan tidak berhenti pada penertiban saja. Setelah dijangkau, mereka akan dibawa ke rumah singgah untuk menjalani rehabilitasi sosial dan bimbingan mental-spiritual (bimtalsik) selama tujuh hari,” jelasnya.
Dinsos akan lakukan asesmen lanjutan buat tentukan langkah berikutnya. Mulai dari reunifikasi dengan keluarga, pemulangan ke daerah asal, sampai rujukan ke lembaga sosial sesuai kebutuhan.

BACA JUGA: Penjangkauan Sosial Pemkot Bandung: Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Warga
Edukasi Masyarakat
Yorisa bilang, sebagian tunawisma sering kembali ke jalan meski sudah mendapat pembinaan.
Faktor ekonomi jadi penyebabnya. Mereka menganggap aktivitas di jalan memberikan penghasilan instan.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak memberikan uang atau barang kepada tunawisma di jalan.
“Kami akan menggencarkan sosialisasi dan imbauan, termasuk melalui Diskominfo, ATCS, serta Satpol PP, agar masyarakat tidak memberi di jalan. Memberi di jalan justru tidak mendidik dan memperpanjang masalah,” ujarnya.
Dukungan Sektor Pariwisata
Lebih lanjut, Yorisa menyebut, upaya beautifikasi ini juga bertujuan mendukung sektor pariwisata Kota Bandung.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan pada momen libur panjang. Pemerintah ingin memastikan Bandung tetap aman, nyaman, dan memberikan kesan positif bagi para tamu.
“Kota Bandung harus tetap bersih, tertib, dan berkesan. Ini bukan hanya tugas pemerintah. Tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya. Red







Komentar