KABARHARMONI | BANDUNG, – Program pengabdian masyarakat jadi salah satu cara efektif mengasah kemampuan mahasiswa membantu menuntaskan sejumlah masalah warga.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., menekankan bahwa mahasiswa bukan hanya pelajar, tetapi pelayan nilai dan penjaga nurani sosial.
“Mahasiswa bukan hanya pelajar, tetapi pelayan nilai dan penjaga nurani sosial. Di kampus mencetak ilmu dalam ruang akademik untuk membangun fondasi pengetahuan dan saat pengabdian kepada masyarakat ini yang akan menjadi kontribusi untuk membenahi persoalan di lingkungan sosial,” ujar dr. Agung.
Pengabdian Masyarakat: Dari Program Menjadi Dampak
Dr. Agung menjelaskan program pengabdian kepada masyarakat akan berdampak jika tahapannya menerapkan nilai-nilai yang tepat.
Pengabdian masyarakat kerap tak berjalan baik selepas program tersebut usai.
Dr. Agung memaparkan beberapa kesalahan umum yang sering terjadi dalam pengabdian masyarakat.
“Pengabdian masyarakat sering dirasa sebagai seremonia belaka. Selepas itu hubungan antara mahasiswa dengan masyarakat terputus. Banyak dokumentasi tetapi minim perubahan. Kegiatan jalan tetapi masalah ada. Proyek selesai, relasi putus. Tidak ada tindak lanjut setelah program berakhir. Seharusnya tidak seperti itu. Mahasiswa harus datang dengan solusi dari hasil memahami kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Mahasiswa Harus Datang dengan Solusi, Bukan Menggurui
Dr. Agung mengungkapkan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah kehadiran yang bermakna.
Bukan sekadar simpati, tetapi harus menjadi rencana aksi yang terorganisir dengan baik.
“Mahasiswa harus datang, lalu merancang solusi yang relevan. Tanggung jawab sosial yang konsisten. Jadi prinsip dasarnya datang ke tengah masyarakat untuk belajar, bukan untuk menggurui,” tuturnya.
Pengabdian yang Baik Ciptakan Warga yang Mampu Lanjutkan Program
Indikator dari kesuksesan program pengabdian masyarakat yang berdampak akan terlihat melalui perubahan perilaku warga, sistem baru yang terbentuk untuk menggerakkan potensi lokal, dan penurunan masalah yang terukur.
“Dampaknya tidak selalu viral, tetapi harus terasa. Pengabdian yang baik menciptakan warga yang mampu melanjutkan program-program yang dijalankan. Jadikan pengabdian ini bukan sebagai program tetapi menjadi karakter. Kita bergerak bukan untuk terlihat tetapi untuk berdampak. Bukan untuk sekadar dokumentasi tetapi untuk bertransformasi,” tutur dr. Agung. Red







Komentar