KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melibatkan peran aktif pemuda dalam gerakan menjaga lingkungan sekaligus mengurangi risiko banjir melalui Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan (Pepeling).
Pemkot Bandung mengerahkan 200 pemuda dari empat kecamatan di Bandung Timur, yakni Kecamatan Ujungberung, Kecamatan Mandalajati, Kecamatan Cinambo, dan Kecamatan Cibiru, untuk mendorong pembuatan sumur resapan dan penanaman pohon.
Gerakan tersebut meluncur di Kecamatan Ujungberung, Rabu 23 September 2026.
Melalui program ini, Pemkot Bandung menargetkan sedikitnya 10.000 bangunan memiliki sumur resapan.
Jika setiap sumur memiliki kapasitas satu meter kubik atau sekitar 1.000 liter, maka terdapat potensi 10 juta liter air yang tertampung dan meresap ke dalam tanah.
Pemuda Tentukan Masa Depan Lingkungan
Camat Ujungberung Abriwiansyah Fitri menegaskan keterlibatan pemuda memegang peran penting karena generasi muda menentukan kondisi lingkungan di masa depan.

“Pemuda ini yang akan menentukan masa depan. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan Pepeling ini, kepedulian pemuda terhadap lingkungan semakin meningkat,” kata Abriwiansyah.
Ia menyebut kepedulian pemuda di wilayahnya telah terlihat nyata melalui berbagai kegiatan.
Salah satunya Sasapu Bandung yang rutin berlangsung setiap Minggu pagi dan melibatkan sejumlah organisasi kepemudaan seperti KNPI, Karang Taruna, FKPPI, XTC, dan Brigez.
Selain itu, Abri berharap kehadiran program Pepeling semakin mendorong pemuda terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan.
Ia juga mengapresiasi Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung dan berharap program kepemudaan terus hadir di wilayah Ujungberung dan Mandalajati.
BACA JUGA: Kota Bandung Belajar dari Banyumas: Percepat Pengelolaan Sampah Menuju 80 Persen
Target 10 Juta Liter Air Meresap ke Tanah
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, Sigit Iskandar mengatakan, Pepeling tidak hanya meningkatkan kesadaran pemuda terhadap lingkungan, tetapi juga mendorong aksi nyata untuk mengurangi potensi banjir, khususnya di wilayah Bandung Timur.

“Tujuannya meningkatkan kesadaran pemuda terhadap lingkungan melalui aksi nyata, di antaranya membuat sumur resapan dan menanam pohon. Yang kedua, bagaimana pemuda ikut terlibat dalam mengurangi atau mencegah banjir di Bandung Timur,” ujar Sigit.
Sebanyak 200 pemuda tersebut berasal dari empat kecamatan, masing-masing 50 orang.
Mereka akan menjadi penggerak hingga tingkat kelurahan dan RW untuk mengajak masyarakat membangun sumur resapan.
Sigit menjelaskan, apabila setiap kecamatan memiliki sekitar lima kelurahan, maka 10 pemuda dari setiap kelurahan dapat bergerak di lingkungan masing-masing untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sumur resapan.
BACA JUGA: Pemkot Bandung dan KONI Gaspol Hadapi Porprov 2026, Bidik Dua Besar dan Juara Umum
Dinas Pemuda dan Olahraga Biayai Program Lewat APBD
Program tersebut menggunakan anggaran APBD melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung.
Salah satu inovasi yang Dinas Pemuda dan Olahraga perkenalkan adalah Siap Tampung dan Resapan (Si Tampan), yakni konsep sumur resapan yang sebelumnya mengikuti kompetisi tingkat provinsi dan meraih penghargaan.
“Kalau ada 10.000 bangunan yang membuat satu sumur resapan dengan kapasitas 1.000 liter, berarti ada 10 juta liter air yang bisa masuk ke tanah,” kata Sigit.
Menurutnya, data 2021 mencatat sekitar 26.000 bangunan di wilayah tersebut, mulai dari rumah, sekolah, kawasan industri hingga perumahan.
Dengan perkembangan kawasan, jumlah bangunan di empat kecamatan itu kini mencapai lebih dari 30.000.
Ia berharap, semakin banyak air hujan yang masuk ke tanah, bukan hanya mengalir dan terkumpul di satu titik.
Dengan begitu, air yang meresap ke tanah saat musim hujan dapat menjadi cadangan yang menjaga ketersediaan air ketika musim kemarau tiba.
BACA JUGA: Wali Kota Farhan Luncurkan Bangbara di Ujungberung, Perkuat Akses Konseling Psikologis Warga
Farhan: Pepeling Investasi Ruang Hidup Ramah Lingkungan
Gerakan ini kemudian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan resmikan.
Dalam sambutannya, Farhan mengatakan Pepeling merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan ruang hidup yang lebih ramah lingkungan.

“Pepeling ini bukan sekadar kegiatan, tetapi investasi supaya ruang hidup kita menjadi lebih ramah lingkungan,” ujar Farhan.
Menurut Farhan, salah satu persoalan penting yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan air.
Ia menceritakan pengalamannya tinggal di sejumlah wilayah Kota Bandung dan pernah merasakan kondisi ketika akses terhadap air tidak mudah.
Farhan kemudian mencontohkan pengalaman di wilayah Rempoa, Tangerang Selatan, ketika masyarakat membangun sumur resapan secara bertahap selama sekitar dua tahun.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun kebiasaan seperti itu secara konsisten agar memberikan dampak terhadap lingkungan.
“Kalau kita ingin hasil yang berbeda, jangan terus menggunakan cara yang sama,” katanya.
Ia meyakini, gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Kebiasaan yang masyarakat lakukan terus-menerus akan menjadi bagian dari budaya.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Minta Camat dan Lurah Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Cuaca Ekstrem
Farhan Sebut Bandung Timur Punya Potensi Sumber Air
Farhan juga melihat kawasan Bandung Timur memiliki potensi sumber air yang perlu mendapat penjagaan.
Kondisi geografis Kota Bandung yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut menjadi salah satu modal yang perlu mendapat pengelolaan melalui upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan resapan air.
Karena itu, ia mengajak pemuda untuk tidak menunggu pihak lain dalam menjalankan gerakan lingkungan.
“Jangan saling tunggu. Anak-anak muda harus aktif, kreatif, dan inovatif,” kata Farhan.
Gerakan Pepeling mengusung tema “Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata”.
Gerakan ini mewadahi pemuda untuk terlibat langsung menjaga lingkungan, meningkatkan resapan air, dan mengurangi risiko banjir di Kota Bandung. Red







Komentar