Kota Bandung Buka Keran Investasi Hijau Global, IFC Targetkan Emisi Turun 22% pada 2035

KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara resmi membuka peluang investasi hijau berskala global.

Langkah ini Pemkot lakukan melalui pengembangan berbagai sektor strategis dalam kerangka climate investment.

Upaya ini menjadi fondasi mewujudkan Kota Bandung yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal itu saat IFC menyerahkan laporan CIOD lewat program APEX Green Cities.

Penyerahan berlangsung di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2026.

Kerja Sama Internasional Perkuat Posisi Bandung

Farhan menyatakan kerja sama Pemkot Bandung dengan berbagai mitra internasional kini semakin meningkat dan beragam.

Menurutnya, peluang investasi di sektor iklim akan memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu tujuan investasi kelas dunia.

“Kerja sama kita sekarang ini sudah makin meningkat dan makin beragam. Tentunya, dalam hal peluang untuk berinvestasi dalam kerangka climate investment, ini menambah kesempatan Kota Bandung untuk menjadi salah satu kota tujuan investasi kelas dunia,” kata Farhan.

Lebih lanjut, Farhan menyebut sejumlah sektor prioritas yang dapat Pemkot kembangkan melalui investasi hijau.

Sektor tersebut meliputi pengolahan sampah serta pengembangan konsep indeks ruang terbuka hijau dan biru.

BACA JUGA: Pemkot Bandung dan Pemerintah Inggris Jalin Kolaborasi Perkuat Ketahanan Bencana dan Keamanan Siber

Hadapi Tantangan Udara dan Air dengan Investasi

Menurut Farhan, pengelolaan lingkungan menjadi semakin krusial seiring pertumbuhan dan kepadatan penduduk Kota Bandung.

Salah satu tantangan utama yang Pemkot soroti adalah kualitas udara.

“Kami juga menghadapi tantangan dengan semakin padatnya penduduk di Kota Bandung. Pada saat yang sama kami mengalami masalah dengan kualitas udara di Kota Bandung yang dianggap sekarang ini sebagai salah satu yang terburuk di Indonesia,” ujarnya.

Farhan menegaskan persoalan kualitas udara tidak semata-mata berasal dari industri besar.

Sebab, saat ini Kota Bandung sudah tidak memiliki industri besar yang kerap menjadi penyebab buruknya kualitas udara di suatu wilayah.

Selain udara, Pemkot Bandung juga menawarkan peluang investasi untuk meningkatkan kualitas air baku dan air tanah.

Saat ini kebutuhan air bersih Kota Bandung masih bergantung pada pasokan air baku dari luar wilayah.

Di sisi lain, sejumlah sungai di Kota Bandung masih menghadapi persoalan kontaminasi.

“Kami juga mengundang climate investment ini untuk menyentuh kualitas air baku di Kota Bandung. Sampai saat ini untuk distribusi air bersih Kota Bandung, kami masih harus membeli air baku dari wilayah di luar Kota Bandung,” ucapnya.

Ia berharap investasi di sektor tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas air baku maupun air tanah di Kota Bandung.

Jangka panjangnya, Pemkot Bandung membidik air keran layak minum di hotel-hotel berbintang Kota Bandung.

“Apabila memang ada peluang bagi climate investment meningkatkan kualitas air baku di Kota Bandung dan air tanah di Kota Bandung, maka cita-cita kami untuk memproduksi air keran yang bisa diminum paling tidak di hotel-hotel berbintang di Kota Bandung akan memberikan nilai tambah yang luar biasa,” jelasnya.

BACA JUGA: Bandung dan Kawasaki Perkuat Kerja Sama Zero Defecation: Kolaborasi Jangka Panjang untuk Lingkungan Bersih

Inggris dan IFC Dukung Implementasi Laporan

Dukungan terhadap upaya Kota Bandung memperkuat investasi hijau juga datang dari Pemerintah Inggris.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Pemkot Bandung, Pemerintah Inggris, dan International Finance Corporation (IFC).

Pemkot Bandung dan IFC bekerja sama. Mereka menyusun laporan investasi iklim Kota Bandung.

Laporan ini menyajikan kajian berbasis data yang memetakan prioritas ketahanan iklim sekaligus peluang investasi hijau di Kota Bandung.

Jermey mengatakan Pemerintah Inggris melalui Department for Energy Security and Net Zero bangga dapat mendukung penyusunan kajian tersebut.

Namun, menurutnya, yang lebih penting setelah Pemkot dan IFC menyusun laporan itu adalah menindaklanjuti rekomendasinya menjadi program dan investasi nyata.

“Laporan ini merupakan bagian dari upaya transformasi untuk masa depan. Laporan ini menyajikan analisis berbasis data mengenai prioritas ketahanan iklim Kota Bandung sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang investasi hijau di Kota Bandung,” ujar Jermey.

Ia menilai kolaborasi tersebut merupakan salah satu hasil nyata dari kemitraan strategis Indonesia dan Inggris.

Kemitraan ini khususnya mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi berkelanjutan, percepatan transisi menuju net zero, dan aksi iklim.

Jermey juga menyoroti sejumlah tantangan yang Bandung hadapi.

Tantangan itu mulai dari polusi dan kualitas udara, pengelolaan air, pengembangan pariwisata dan investasi, hingga transformasi pengelolaan sampah menjadi energi.

Ia menyebut Inggris memiliki pengalaman menghadapi berbagai tantangan serupa di sejumlah kota, seperti London, Oxford, dan Glasgow.

Oleh karena itu, Pemerintah Inggris siap mendukung Bandung memasuki tahap implementasi rekomendasi yang telah tim susun.

“Kami sangat senang dapat mendukung perjalanan Kota Bandung pada tahap ini. Kami juga berharap dapat terus bermitra dengan Pemerintah Kota Bandung dalam proses implementasi hasil laporan ini,” katanya.

BACA JUGA: Realisasi Investasi Kota Bandung Tembus Rp6,4 Triliun, Pemkot Bidik Target Rp12 Triliun di Akhir 2026

28 Langkah Turunkan Emisi 22% pada 2035

Sementara itu, Euan Marshall dari IFC memaparkan hasil studi. Tim IFC menyusun studi itu lewat program Apex Green Cities.

Ia menyebut Bandung menjadi salah satu dari 30 kota di dunia yang tergabung dalam jaringan program tersebut.

Melalui program ini, IFC mendorong kota-kota mengidentifikasi dan mengembangkan investasi aksi iklim dengan dampak terbesar.

“Secara khusus terkait Climate Investment Opportunities Diagnostic terdapat 28 langkah atau kebijakan berdampak tinggi yang telah diidentifikasi. Jika seluruh langkah tersebut diterapkan secara tepat, emisi gas rumah kaca Kota Bandung diperkirakan dapat dikurangi hingga 22 persen pada 2035,” ujar Euan.

Menurutnya, target tersebut merupakan peluang bagi Bandung untuk menunjukkan kepemimpinan dalam aksi iklim tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan Asia.

Dari 28 langkah yang tim identifikasi, terdapat sekitar delapan langkah utama yang berkontribusi terhadap sekitar 90 persen potensi pengurangan emisi.

Beberapa sektor tersebut mencakup pembangunan dan pengembangan gedung hijau, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sampah, transportasi publik, serta pengelolaan air.

Euan menilai pengelolaan sampah melalui pemilahan, pengumpulan, dan pengolahan yang tepat menjadi salah satu langkah dengan dampak tinggi dalam menekan emisi gas rumah kaca.

BACA JUGA: Tekad Kota Bandung Menjadi Pelopor Menuju Kota Hijau dan Rendah Karbon di Jawa Barat

IFC Ajak Swasta Biayai Proyek Hijau Bandung

IFC juga melihat peluang pembiayaan melalui keterlibatan sektor swasta.

Skema kerja sama pemerintah dan badan usaha atau public-private partnership (PPP) dapat mendukung layanan perkotaan sekaligus mengurangi beban pembiayaan publik.

Sejumlah peluang yang dapat tim kembangkan selanjutnya antara lain penguatan sistem Bus Rapid Transit (BRT), program waste to energy, fasilitas park and ride, serta penerapan low emission zone di kawasan inti cagar budaya.

Selain itu, pengembangan bangunan publik yang hijau dan tangguh juga menjadi salah satu peluang investasi yang dapat Pemkot kembangkan bersama.

Euan menuturkan, IFC terbuka untuk terus mendukung Pemkot Bandung dan para mitra baik dari sektor publik maupun swasta dalam merealisasikan berbagai peluang tersebut.

Dengan target 2035 yang semakin dekat, ia mendorong Kota Bandung untuk mulai mengambil langkah besar sejak sekarang.

“Tahun 2035 lebih dekat daripada yang kita bayangkan sehingga target tersebut memang sangat ambisius. Namun, kita juga harus berani memikirkan sesuatu yang besar agar dapat mulai melakukan langkah-langkah yang memiliki dampak besar pula,” tuturnya.    Red

Komentar