BNNP Jabar: Jawa Barat Jadi “Batu Loncatan” Jaringan Narkoba, 182 Remaja Ikuti Lomba Ngawih Antinarkoba

KABARHARMONI | BANDUNG, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat menegaskan ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Jawa Barat masih sangat serius.

Dengan jumlah penduduk sekitar 51,7 juta jiwa, Jabar menjadi wilayah strategis yang jaringan narkotika manfaatkan untuk memasok barang haram ke berbagai daerah di Indonesia.

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., menilai kondisi demografi dan geografis Jabar membuat provinsi ini rawan menjadi jalur peredaran narkotika.

Jawa Barat Jadi Batu Loncatan Kasus Narkoba Nasional

Sulistyo menyebut posisi Jawa Barat membuat provinsi ini menjadi perhatian utama jaringan narkotika.

“Jawa Barat menjadi batu loncatan dari banyak kasus narkotika nasional,” ujar Sulistyo dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung pada Rabu, 9 September 2026.

Lebih lanjut, Sulistyo memaparkan sejumlah kasus besar yang pernah BNNP Jabar ungkap.

Di antaranya pengungkapan pabrik PCC di Kawalu, Tasikmalaya, yang mampu memproduksi jutaan pil setiap hari.

Selain itu, BNNP Jabar juga pernah membongkar pabrik narkotika di wilayah Cimahi.

Tidak hanya itu, BNNP Jabar juga pernah menggagalkan peredaran dalam jumlah besar.

Salah satunya penangkapan sekitar lima ton ganja di Kota Bogor.

BACA JUGA: Pasanggiri Kawih Sinom “Narkoba Musuh Bangsa” Sukses Digelar, BNN Jabar Ajak Anak Muda Lawan Narkoba Lewat Seni

Generasi Muda Jadi Sasaran Utama

Sulistyo menegaskan persoalan narkoba tidak hanya sebatas penindakan terhadap bandar dan pengedar.

Ancaman yang jauh lebih besar justru menyasar generasi muda.Ia menyebut jumlah pengguna narkotika yang menjalani layanan rehabilitasi BNN tidak sedikit yang masih berusia remaja.

Bahkan, BNN mencatat ada anak berusia 13 hingga 15 tahun yang sudah terpapar narkoba.

“Pengguna terbanyak itu generasi muda,” katanya.

Menurut Sulistyo, masyarakat sering kali baru menyadari bahaya narkoba ketika persoalan tersebut sudah masuk ke dalam keluarga.

Padahal, peredaran narkoba berada di tengah lingkungan masyarakat dan dapat menyasar siapa saja.

Kondisi tersebut berpotensi menghambat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Jawa Barat.

Pemerintah daerah selama ini terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Namun, Sulistyo mengingatkan upaya tersebut akan menghadapi persoalan serius apabila generasi muda justru terpapar narkoba.

“Kalau upaya pendidikan yang tinggi ditarik lagi ke belakang oleh peredaran narkoba yang masif, tentu menjadi persoalan,” ujarnya.

Perkuat Pengawasan Darat, Laut, dan Udara

Untuk memutus rantai peredaran, BNNP Jawa Barat memperkuat pengawasan terhadap berbagai jalur yang berpotensi jaringan narkotika gunakan, mulai dari darat, laut hingga udara.

Sulistyo menegaskan keterbatasan sarana tidak menjadi alasan bagi BNN untuk menghentikan pengawasan.

Dalam sejumlah operasi besar, BNN bekerja sama dengan kepolisian dan unsur terkait lainnya.

Wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk kawasan Pangandaran hingga Garut, juga menjadi perhatian khusus.

Kawasan itu memiliki jalur laut yang memungkinkan terjadinya transaksi narkotika.

Sulistyo menyebut nelayan tradisional berpotensi jaringan pengedar manfaatkan untuk melakukan transaksi di tengah laut.

Selain jalur laut, BNN juga memperketat pengawasan terhadap penerbangan.

BNN melakukan pemeriksaan atau screening secara insidental berdasarkan momentum maupun informasi intelijen.

“Tidak ada ruang hukum di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh BNN. Di mana pun potensi penyalahgunaan itu ada,” tegas Sulistyo.

BACA JUGA: Pemkot Bandung dan BNN Resmikan Gedung Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkoba

Tak Ada Kekebalan Hukum dan Rehabilitasi Gratis

Sulistyo juga menegaskan tidak ada pihak yang memiliki kekebalan hukum dalam kasus narkotika.

Jabatan, profesi maupun akses khusus tidak boleh menjadi celah bagi jaringan narkotika untuk menjalankan aksinya.

Ia mencontohkan pengungkapan kasus pilot asal Malaysia yang membawa sabu dalam jumlah puluhan kilogram.

Kasus tersebut membuktikan jaringan narkotika dapat memanfaatkan berbagai profesi dan jalur untuk menyelundupkan barang haram.

“Secara prinsip hukum, tidak ada manusia yang kebal hukum,” ujarnya.

Di sisi lain, Sulistyo meminta masyarakat tidak takut berhubungan dengan BNN, khususnya ketika membutuhkan bantuan rehabilitasi bagi anggota keluarga yang sudah terlanjur menggunakan narkotika.

Ia menegaskan BNN menyediakan layanan rehabilitasi gratis bagi masyarakat.

“Rehabilitasi di BNN itu gratis. Semuanya gratis,” katanya.

Karena itu, Sulistyo meminta masyarakat yang memiliki anggota keluarga terpapar narkoba agar tidak merasa malu ataupun takut mencari pertolongan.

Sulistyo menegaskan pengguna narkotika harus mendapatkan penanganan dan rehabilitasi, sementara pihak yang harus menjadi sasaran utama penindakan adalah bandar dan pengedar.

“Yang harus takut itu pengedar sama bandar,” tegasnya.

Cegah Lewat Seni: Lomba Ngawih Pupuh Sinom

Selain penindakan dan rehabilitasi, BNNP Jawa Barat mengembangkan pendekatan pencegahan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Salah satunya melalui seni tradisional Sunda, khususnya pupuh Sinom.

Sulistyo menjelaskan BNNP Jabar memilih Sinom karena secara filosofi berkaitan dengan anak muda.

Sejak dahulu, masyarakat menggunakan pupuh tersebut sebagai media untuk menyampaikan nasihat dan pepeling kepada generasi muda.

Melalui seni tradisional tersebut, BNNP Jabar berharap anak-anak serta remaja lebih mudah menerima dan mengingat pesan tentang bahaya narkoba.

“Nasihatnya ini untuk anak muda, agar mereka memiliki daya tangkal, daya tahan dan pengetahuan bahwa narkoba ini berbahaya,” jelasnya.

Inovasi tersebut bahkan telah BNNP Jabar kembangkan melalui kegiatan lomba ngawih.

Kegiatan itu melibatkan sekitar 182 peserta, terdiri dari seniman muda, remaja, pelajar dan seniman profesional dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Sulistyo berharap pesan antinarkoba dapat menjadi nilai yang tertanam sejak dini, bukan sekadar informasi yang BNN sampaikan ketika seseorang sudah terpapar.

BACA JUGA: Wali Kota Bandung Instruksikan Pakta Integritas Orang Tua SD-SMP: Benteng Awal Lindungi Anak dari Narkoba

Pesan Tegas untuk Generasi Muda

Menutup perbincangan, Sulistyo berpesan kepada generasi muda agar berani menolak ketika mendapatkan tawaran untuk mencoba narkoba.

Ia mengingatkan para pengedar sering kali mengajak menggunakan narkoba dengan memberikannya secara gratis di awal.

Setelah korban mulai ketagihan, pengedar kemudian membuat pengguna bergantung dan terlilit utang.

Karena itu, ia meminta generasi muda tidak perlu takut dianggap tidak gaul atau pengecut ketika menolak narkoba.

“Tidak apa-apa kalau dianggap cemen. Yang penting sehat,” pesannya.

Sulistyo juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila mengetahui adanya aktivitas peredaran narkoba di lingkungan sekitar.

Menurutnya, perang melawan narkoba bukan hanya menjadi tugas BNN atau aparat penegak hukum, tetapi seluruh masyarakat harus terlibat.

“Jaga diri dan keluarga kita dari ancaman para bandar narkoba. Hidup sehat lebih baik daripada setelah terjerumus, untuk keluarnya juga berat,” pungkasnya.     Red

Komentar