BMKG: 5 Bandara di Jawa-Sumatra Kembali Beroperasi Usai Negatif Abu Vulkanik Anak Krakatau

KABARHARMONI | JAKARTA, – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi lima bandar udara telah membuka kembali operasional penerbangan.

Keputusan ini menyusul hasil pengujian paper test yang menunjukkan negatif abu vulkanik.

Berdasarkan pemantauan Selasa (8/9), petugas memverifikasi di lapangan dan menyatakan ruang udara serta area landasan sejumlah bandara aman dari sebaran material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau atau GAK.

Hasil Paper Test Negatif, 5 Bandara Buka Bertahap

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan BMKG menjalankan pengujian paper test secara berkala di beberapa titik.

Pengujian ini melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan.

BMKG menggelar pengujian berkala ini guna memastikan keamanan di lingkungan bandara sebelum pihak pengelola membuka kembali operasional penerbangan.

“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Faisal, Selasa (8/9).

Menindaklanjuti kondisi keamanan udara, Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM).

NOTAM tersebut menyatakan lima bandara telah beroperasi kembali dan melanjutkan operasional.

PT Angkasa Pura II resmi membuka kembali Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, mulai pukul 00.30 WIB.

Selanjutnya Halim Perdanakusuma, Jakarta, menyusul pukul 00.40 WIB, dan Husein Sastranegara, Bandung, pukul 00.42 WIB.

Selain itu, Bandar Udara Budiarto Curug, Tangerang, beroperasi mulai pukul 01.25 WIB serta Pondok Cabe, Tangerang Selatan, mulai pukul 01.28 WIB.

Kemudian Muhammad Taufik Kiemas, Sumatra Selatan, pukul 09.31, Radin Inten II, Lampung, pada pukul 09.45, dan Salakanagara Tanjung Lesung, Banten, pukul 09.50.

BACA JUGA: BMKG: 8 Bandara di Jawa-Sumatra Ditutup Sementara Imbas Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Abu Vulkanik Turun ke Ketinggian 7.000 Kaki

Sejalan dengan pembukaan bandara, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik.

Saat ini abu vulkanik secara umum berada pada ketinggian hingga 7.000 kaki atau 2,13 km.

Abu tersebut bergerak ke arah selatan-barat daya mencakup sebagian Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten dengan kecepatan 5-10 knot atau 9,3-18,5 km/jam pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB.

“Pantuan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.

BACA JUGA: Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Kota Bandung, Bandara Husein Sastranegara Ditutup Sementara

Selat Sunda Aman, Gelombang 0,5-3 Meter

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung tidak menemukan adanya anomali gelombang muka air laut.

Dengan demikian, probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah, yaitu di bawah 50 persen.

BMKG memprakirakan tinggi gelombang untuk 7 hari ke depan, 8–13 September 2026, di wilayah sekitar Selat Sunda berkisar antara 0,5–3 meter.

“Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami,” jelas Ardhasena.

BACA JUGA: BMKG: El Niño Sangat Kuat Picu Kemarau Luas, 559 Wilayah Indonesia Alami Curah Hujan Rendah

Erupsi Kecil dan OMC Bersihkan Atmosfer

Mengacu pada informasi terbaru PVMBG pukul 07.49 WIB, GAK kembali erupsi.

Erupsi ini memiliki amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik.

PVMBG mengategorikan erupsi ini sebagai erupsi strombolien atau erupsi kecil.

Mengikuti erupsi-erupsi kecil lainnya, BMKG juga memantau gangguan geomagnetik dan sambaran petir akibat aktivitas GAK melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.

BMKG mencatat adanya aktivitas gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik mulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00 WIB.

Petugas mencatat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau hari ini lebih rendah daripada aktivitas pada hari-hari sebelumnya.

Guna mempercepat pembersihan atmosfer dari material abu vulkanik, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 7 September 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan tim OMC menerapkan metode penyemaian awan hujan serta penyemprotan watermist.

Tim menggunakan dua unit pesawat Cessna Caravan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.

“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, 1 sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, 1 sorti liquid CaCl2 dan 3 sorti menggunakan spraying/watermist. Operasi akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik, sehingga konsentrasi abu di udara diharapkan terus berkurang dan kondisi atmosfer berangsur lebih bersih,” jelas Seto.

BACA JUGA: BMKG Gencar OMC di Kaltim dan IKN: Atasi Defisit Air Waduk Sepaku dan Tekan Karhutla

Imbauan BMKG: Tetap Waspada dan Pakai Masker

Melihat kondisi terkini, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap waspada dan tenang terhadap dinamika atmosfer yang terjadi imbas erupsi GAK.

BPBD mengimbau masyarakat di wilayah terpapar sebaran abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan memperhatikan kesehatan.

Petugas mengimbau warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah untuk selalu mengenakan masker dan kacamata pelindung.

Selain itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah.    Red

Komentar