BMKG Gencar OMC di Kaltim dan IKN: Atasi Defisit Air Waduk Sepaku dan Tekan Karhutla

KABARHARMONI | JAKARTA, – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Otorita Ibu Kota Negara (OIKN), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim) secara serentak melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Upaya ini secara langsung menargetkan penanggulangan defisit air di Waduk Sepaku dan penekanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut.

Kondisi kekeringan yang memanjang memaksa lintas instansi bergerak cepat.

Selain itu, sebaran asap karhutla juga semakin meluas hingga keluar batas negara.

Asap Karhutla Melintasi Batas dan Kaltim Catat 28 Hari Tanpa Hujan

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, memaparkan kondisi atmosfer terkini.

Ia menjelaskan bahwa sebaran asap karhutla umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut.

Selanjutnya asap tersebut melewati batas administratif hingga menjangkau Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.

Sementara itu, data per 20 Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kaltim mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori Sangat Pendek hingga Panjang.

Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser mencatat durasi terpanjang, yakni 28 hari berturut-turut tanpa hujan.

Budi menegaskan tujuan utama OMC.

“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya,” jelas Budi di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, Senin (24/8).

BACA JUGA: BMKG: El Niño Sangat Kuat Picu Kemarau Luas, 559 Wilayah Indonesia Alami Curah Hujan Rendah

El Nino Picu Penurunan Air Waduk Sepaku dan Lonjakan Titik Panas

Berdasarkan data dari Otorita IKN, cadangan air di Waduk Sepaku terus mengalami penurunan sejak Juli 2026.

Waduk tersebut berfungsi sebagai sumber air baku utama bagi wilayah IKN.

Penurunan ini terjadi sebagai dampak langsung dari fenomena El Nino.

Di sisi lain, pantauan BMKG mencatat jumlah titik panas di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 1-23 Agustus 2026 mencapai 13.273 titik.

Angka tersebut naik 35,5 persen dari periode yang sama pada tahun 2015.

Saat itu, puncak musim kemarau juga berbarengan dengan El Nino.

Potensi Hujan Menurun, OMC Fokus di IKN dan Berau

BMKG memantau potensi pertumbuhan awan di Kaltim pada 23-31 Agustus 2026.

Pada periode awal, potensi tersebut berada pada kategori tinggi hingga sedang, terutama di bagian utara Kaltim.

Namun, BMKG memprediksi potensi pertumbuhan awan akan menurun pada 24-26 Agustus.

Selanjutnya, penurunan signifikan terjadi pada 28-31 Agustus sehingga sebagian besar wilayah Kaltim akan mengalami cuaca relatif kering.

Secara rinci, hujan dengan intensitas ringan-sedang masih berpotensi mengguyur wilayah Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara pada 24-26 Agustus.

Kemudian, pada 27 Agustus-1 September, BMKG memprakirakan intensitas dan sebaran hujan akan menurun signifikan di sebagian besar wilayah Kaltim.

Dalam pelaksanaan OMC, BMKG tidak hanya mempertimbangkan jumlah titik api yang terdeteksi.

Selain itu, BMKG juga menganalisis potensi hujan di wilayah sasaran.

Dengan pertimbangan tersebut, tim melaksanakan OMC di IKN pada 22-27 Agustus untuk mengatasi penurunan air Waduk Sepaku.

Hasilnya langsung terlihat.

Hujan turun di wilayah tersebut dan sekitarnya selama dua hari hingga pagi tadi.

Budi menambahkan rencana lanjutan.

“Kemudian, OMC di Kabupaten Berau mulai dilaksanakan pada 24–28 Agustus untuk mengatasi titik panas berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG,” tambah Budi.

BACA JUGA: Cuaca Hari ini: BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ringan hingga Sedang di Beberapa Wilayah Jawa Barat

Status Siaga Bencana dan Ribuan Sorti Penyemaian Awan

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan langkah tambahan.

Langkah ini bertujuan mengendalikan ancaman kekeringan dan karhutla yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Agustus 2026.

Saat ini, tim memantau sekitar 200 titik api di Kaltim.

Seiring dengan pelaksanaan OMC, tim gabungan terus bergerak.

Tim tersebut terdiri dari TNI, Polri, BPBD, pemerintah kabupaten/kota, hingga Masyarakat Peduli Api.

Mereka secara aktif menanggulangi titik api yang muncul.

Saat ini, status penanganan karhutla di Kaltim masih berada pada level Siaga Bencana.

Status tersebut belum meningkat menjadi Siaga Darurat.

Meski demikian, Seno mengingatkan seluruh daerah untuk mewaspadai kerawanan dan kondisi kebencanaan di wilayahnya.

Apabila suatu daerah telah memenuhi kriteria siaga darurat, maka daerah tersebut dapat segera mengajukan permohonan bantuan kepada BNPB.

Di sisi lain, BMKG bersama para stakeholder telah mendirikan posko OMC di beberapa titik strategis.

Posko-posko ini mendukung ketahanan air, pangan, dan keselamatan masyarakat.

Posko Pekanbaru, Riau telah menerbangkan 26 sorti bahan semai untuk penanganan karhutla pada 30 Juli-29 Agustus.

Sementara itu, Posko Palembang, Provinsi Sumatra Selatan menggelar OMC penanganan karhutla pada 22-26 Agustus.

Kemudian, Posko Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat telah melaksanakan OMC sepanjang 23-27 Agustus.

Tidak hanya fokus di Kalimantan dan Sumatra, BMKG dan Pemda DKI juga menyelenggarakan OMC pada 22-26 Agustus.

OMC tersebut bertujuan meningkatkan kualitas udara Jakarta.

Dengan kolaborasi lintas lembaga dan pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca, pemerintah berupaya meminimalkan dampak El Nino sekaligus menjaga ketersediaan sumber daya air dan kualitas udara di sejumlah wilayah rawan.    Red

Komentar