Kodiklatad Gelar Halal Bihalal dan Hari Kartini 2026, KOWAD Tekankan Integritas dan Pemberdayaan Perempuan

KABARHARMONI | BANDUNG, Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) menggelar acara Halal Bihalal 1447 Hijriyah dan Peringatan Hari Kartini TA 2026 untuk mempererat tali silaturahmi dan mengobarkan semangat perjuangan pahlawan wanita Indonesia.

Danpusdikkowad Kodiklatad, Kolonel Cku (K) Fitri Anggraeny, S.E., M.M., menyambut hangat para tamu undangan.

Ia juga memastikan kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.

Selanjutnya, Direktur Umum Kodiklatad, Brigjen TNI Saiful Rizal, S.Sos., hadir langsung dan memberi pengarahan strategis.

Ia menekankan pentingnya sumber daya manusia di lingkungan militer.

Brigjen Saiful Rizal: Junjung “Anggun dalam Penampilan, Tangguh dalam Kemampuan”

Brigjen TNI Saiful Rizal menyampaikan apresiasi tulus kepada Danpusdikkowad, Kolonel CKU (K) Fitri Anggraeny, S.E., M.M., atas peran serta dukungannya.

Ia juga berterima kasih kepada Wakil Rektor III USB YPKP, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., yang menyempatkan hadir sebagai narasumber.

Melalui tema “Melangkah Menuju Kesetaraan Pemberdayaan Perempuan dan Transformasi Bisnis Lokal”, acara ini menjadi wadah kebersamaan.

Acara ini juga menghapus prasangka tidak sehat di antara para prajurit wanita.

“Hari ini merupakan kegiatan Halal bihalal dan hari kartini yang sangat luar biasa, Ucapan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Wakil Rektor III Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P. Karena di sela kesibukannya dapat menyempatkan hadir pada hari yang special baginya. Para prajurit Wanita semua berkumpul di acara ini karena acara ini dapat menghilangkan prasangka yang tidak sehat dan menjadi wadah kebersamaan”. Ujar Brigjen TNI Saiful Rizal, S.Sos.

Lebih lanjut, Brigjen TNI Saiful Rizal menegaskan prinsip “Anggun dalam Penampilan, Tangguh dalam Kemampuan”.

Prinsip itu menegaskan bahwa kelembutan seorang wanita dan ketegasan prajurit membentuk satu kesatuan kekuatan.

Ia juga menggunakan simbol melati sebagai “pagar bangsa”.

Simbol itu melambangkan integritas serta kekuatan untuk melindungi doktrin dan kedaulatan negara.

Waspada Virus Perilaku Menyimpang di Era Digital

Di tengah era kontaminasi global, Brigjen Saiful Rizal mengingatkan para prajurit agar waspada terhadap virus perilaku menyimpang.

Ia menyebut digital hedonisme, disrupsi susila, post-truth, dan radikalisme dapat merusak personal branding serta kehormatan.

“Jangan tukar kehormatan dengan kesenangan semu sesaat,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia memberikan lima pedoman utama.

Pertama, prajurit harus menjaga niat karena Tuhan.

Kedua, prajurit menjadikan integritas sebagai pakaian harian atau “kebaya jiwa”.

Ketiga, prajurit bijak berteknologi.

Keempat, prajurit menjadikan senior sebagai role model.

Kelima, prajurit terus meningkatkan kompetensi teknis untuk penugasan global.

Dr. Nurhaeni Sikki: Kartini Modern KOWAD Harus Cerdas Spiritual dan Intelektual

Sementara itu, Wakil Rektor III USB YPKP, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., menegaskan sejarah pembentukan Kowad.

Ia mengingatkan Kowad resmi lahir pada Desember 1960.

Refleksi itu menjadi penting dalam acara ini.

Ia mengakui prajurit KOWAD memiliki kemampuan khas.

Mereka mampu berperan ganda sebagai ibu rumah tangga dan prajurit dengan ketahanan tinggi.

Namun, ia menilai pengembangan karir Kowad masih menghadapi tantangan.

Manajemen SDM yang belum optimal menjadi salah satu tantangan itu.

Oleh karena itu, ia berharap sosok Kartini modern dalam tubuh Kowad tumbuh sebagai pribadi yang cerdas.

Kartini modern harus cerdas secara spiritual, intelektual, dan emosional.

Mereka juga tetap memegang teguh etika kesantunan sesuai prosedur keprajuritan.

Melalui kegiatan ini, Kodiklatad terus berkomitmen menjadi “dapur” pembentukan karakter bagi prajurit wanita.

Kodiklatad ingin prajurit wanita tetap bersih secara moral dan tumbuh dalam kebermanfaatan bagi bangsa.

Perempuan Penggerak Transformasi Bisnis Lokal

Sisi pemberdayaan perempuan juga menguat lewat pemaparan materi dari Dr. Nurhaeni Sikki.

Ia membahas kesetaraan gender sebagai kemitraan sejajar antara laki-laki dan perempuan.

Kemitraan itu memungkinkan keduanya mengaktualisasikan diri sesuai kodrat masing-masing.

Ia menyoroti pentingnya penguatan mental dan emosi.

Penguatan itu menjadi kunci mencapai kesetaraan berkelanjutan di era digital.

Selain itu, ia memaparkan contoh nyata transformasi bisnis lokal.

Perempuan berperan sebagai penggerak utama dalam kelompok wanita tani.

Kelompok itu mengolah mangga gedong gincu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Dengan sentuhan kreatif dan ketelitian dalam kemasan, perempuan mampu mengubah buah yang semula tidak berharga.

Mereka mengubahnya menjadi produk gaya hidup yang memberi kemandirian finansial.

”Dua puluh tahun bukanlah waktu yang mudah, untuk melangkah keluar dari lingkungan militer bukanlah sebuah upaya untuk mencari kebebasan dari rutinitas yang ketat, melainkan sebuah transformasi pengabdian yang lebih luas. Saat kalimat perpisahan terucap, bukan rasa lega karena lepas dari tugas yang ia rasakan, melainkan sebuah harapan besar agar gelar S3 yang telah diraihnya dapat menjadi lentera yang bermanfaat bagi khalayak ramai di lingkungan yang baru. Ilmu dan pengalaman yang ditempa selama menjadi Kowad tidak akan pernah luntur hanya karena berganti di lingkungan sipil. Pendidikan di Kowad telah membentuk fondasi karakter yang begitu kokoh, sehingga ketika ia memutuskan untuk berpindah haluan menjadi seorang dosen di lingkungan sipil, nilai-nilai tersebut tetap melekat erat. Dunia akademis hanyalah sebuah panggung baru, namun instrumen yang digunakan tetaplah sama, kedisiplinan yang tinggi, tanggung jawab yang mutlak, dan kerja keras yang tanpa batas,” ujarnya.    Red

Komentar