KABARHARMONI | BANDUNG, – Sentra industri alas kaki legendaris Cibaduyut kini menatap masa depan dengan pendekatan ilmiah.
Para pengrajin dan akademisi merumuskan model kesiapan Smart IKM lewat FGD berjudul “Craftsmanship Skills Index dan Komitmen Manajerial untuk Penguatan UMKM Sepatu Tradisional” guna menjawab tantangan modernisasi.
Kegiatan berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026 mulai pukul 09.28 WIB.
FGD ini merupakan bagian dari program HIBAH KEMDIKTISAINTEK 2026 SKEMA PENELITIAN DASAR, meliputi Penelitian Dasar Fundamental dan Penelitian Kerja Sama Antar Perguruan Tinggi.
Akademisi Tekankan FGD untuk Belajar, Bukan Menguji
Ketua peneliti Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., membuka kegiatan dengan menegaskan tujuan utama diskusi.
Ia menyatakan FGD ini murni menyerap ilmu langsung dari pelaku lapangan, bukan ajang penilaian pengrajin.

“Bapak/Ibu, kami tidak sedang menguji kemampuan Bapak/Ibu. Kami justru ingin belajar dari pengalaman Bapak/Ibu sebagai pelaku dan empu sepatu. Dokumen ini masih draf, jadi kami mohon dikoreksi berdasarkan pengalaman nyata Bapak/Ibu,” ungkap Dr. Nurhaeni di hadapan para peserta.
Pernyataan itu langsung mencairkan suasana.
Para pengrajin pun lebih leluasa menyampaikan realita lapangan.
Sinergi Tokoh dan Aspirasi Pengrajin: “Jangan Sampai Seperti Dinosaurus”
FGD menghadirkan pemangku kepentingan kunci untuk memetakan masa depan Cibaduyut.
Ketiganya menyoroti isu produksi, pemasaran, hingga keberlanjutan sentra.
Pak Roni Sukirman selaku Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak.
Menurutnya, tantangan saat ini melampaui soal produksi.
Persoalan pemasaran, harga, dan adaptasi pasar juga mendesak.
Melalui program klaster alas kaki, ia berharap kerja sama praktisi, akademisi, pemerintah, dan pengrajin semakin solid.
Tujuannya jelas: mendongkrak daya saing pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Sementara itu, Pak Gun Ruhiyadi sebagai Tokoh Masyarakat dan Pengrajin Sepatu mengarahkan fokus pada penguatan produksi dan keberlangsungan usaha.
Dengan nada penuh harap, ia menyampaikan kalimat yang mengena: “Saya hidup dari sepatu.”
Ungkapan itu menegaskan bahwa industri alas kaki merupakan sumber penghidupan utama bagi banyak pelaku UMKM.
Ia juga mendorong peningkatan kompetensi teknis serta pengelolaan usaha lewat program pelatihan agar pelaku mikro dan kecil tetap eksis.
Peringatan kritis datang dari Pak Ikin Sodikin, Perwakilan IKM.
Ia mengingatkan Cibaduyut memiliki sejarah panjang sebagai sentra alas kaki Indonesia.
Namun demikian, para pengrajin tidak boleh mengabaikan ketergantungan pada bahan baku impor dan gempuran produk luar negeri.
Oleh karena itu, pengrajin harus terus berinovasi dan menjaga kualitas.
Pesannya tajam: “Jangan sampai Sepatu Cibaduyut itu tinggal nama saja, kaya dinosaurus.”
Ia juga menyoroti sentra serupa di Garut dan Bogor Ciomas.
BACA JUGA: USB dan IRIJ Jajaki Kerja Sama dengan ROY Co., Ltd. Jepang, Perkuat Sinergi Pendidikan dan Industri
Tim Peneliti Validasi 8 Kompetensi Inti Lewat CSI
Memasuki sesi inti, tim peneliti memaparkan materi komprehensif untuk memvalidasi indikator perilaku Level 1 sampai Level 5.
Selain itu, tim juga menetapkan status awal indikator: Tetap, Perlu Koreksi [PK], dan Awal.[T][A]
Pertama, Dr. Nurhaeni Sikki memandu materi pengantar dokumen.
Ia memvalidasi tiga kompetensi awal, yakni Kompetensi 1 Desain dan Konstruksi Pola, Kompetensi 2 Seleksi, Penataan, dan Penanganan Material kulit/sintetis, serta Kompetensi 3 Konstruksi dan Penjahitan Upper yang merupakan proses tersulit.
Selanjutnya, Dr. Ratna Deli Sari, S.Sos., M.Si., mengupas empat kompetensi lanjutan.
Ia membahas Kompetensi 4 Lasting dan Pembentukan Sepatu secara simetris tanpa kerutan, Kompetensi 5 Perakitan dan Pemasangan Sol dengan teknik spesialis tradisional seperti stitch-down/rosel dan backstitch/dorné, Kompetensi 6 Finishing dan Pengendalian Kualitas dari hulu ke hilir serta penanganan produk cacat, hingga Kompetensi 7 Transfer dan Preservasi Pengetahuan Kriya melalui tradisi ngendek kepada pekerja junior.
Terakhir, Dr. Peti Savitri, S.T., M.T., memvalidasi Kompetensi 8 Kesiapan Operasi dan Pemasaran Digital berbasis aplikasi menuju Smart IKM.
Lebih dari itu, ia mengajukan 7 pertanyaan kunci lintas kompetensi untuk mempertajam hasil validasi.
Ia juga memandu pengisian Lembar Keputusan Akhir terkait masuknya kompetensi ke dalam Craftsmanship Skills Index (CSI), serta memimpin proses penandatanganan pengesahan hasil diskusi.
Pengrajin Desak Pelatihan Aplikatif dan Subsidi Material
Diskusi interaktif melahirkan sejumlah masukan krusial.

Pengrajin membutuhkan pelatihan yang lebih aplikatif dan berkelanjutan, bukan sekadar teoretis.
Pertama, para mentor harus turun langsung mendampingi kegiatan usaha sehari-hari.
Peserta menilai cara ini paling efektif.
Kedua, peserta mendesak pemerintah menyelenggarakan program lanjutan nyata untuk meningkatkan kualitas produk, pemasaran, dan daya saing.
Ketiga, muncul harapan besar agar pemerintah menginisiasi Program Subsidi Material/Bahan.
Program ini wajib meringankan biaya produksi pengrajin sepatu handmade.
Selama ini harga kulit impor membebani mereka.
BACA JUGA: USB Sukses Gelar Mobility Student Program dan Community Services di UUM
Cibaduyut, Garut, Ciomas Kompak Jaga Eksistensi
FGD ini menegaskan kembali pentingnya menjaga keberlanjutan industri alas kaki, tidak hanya di Cibaduyut tetapi juga di Garut dan Bogor Ciomas.
Keberlanjutan itu hanya tercapai melalui tiga pilar: peningkatan kompetensi pengrajin yang konsisten, penguatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha, serta pendampingan yang berkesinambungan.

Sebagai penutup, seluruh pihak optimis menatap masa depan.
Mereka menaruh harapan besar agar Eksistensi Sepatu Tradisional Cibaduyut tetap adaptif terhadap perkembangan zaman dan terus memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat. Red







Komentar