UNJ Luncurkan Dasbor Digital Pemetaan Guru, Urus Laporan Cuma Hitungan Menit

KABARHARMONI | JAKARTA, – Mengelola data guru di sekolah selama ini menyita banyak waktu.

Pasalnya, catatan pelatihan tersimpan di satu berkas, hasil penilaian kinerja berada di berkas lain, dan data kepegawaian tersebar di tempat berbeda.

Akibatnya, ketika kepala sekolah ingin mengetahui guru mana yang membutuhkan pelatihan tambahan, ia tidak dapat memperoleh jawabannya dengan cepat.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta mengembangkan sebuah dasbor digital untuk memetakan kompetensi guru.

Sistem ini menghimpun data kepegawaian, riwayat pelatihan, dan hasil penilaian kinerja ke dalam satu tampilan.

Pengguna dapat membukanya melalui peramban biasa tanpa memerlukan perangkat khusus.

UNJ dan SMKN 16 Jakarta Kembangkan Prototipe Dashboard BI

Penelitian berjudul “Pengembangan Dashboard Analitik Kompetensi Pegawai Berbasis Business Intelligence untuk Pemetaan Sumber Daya Manusia” ini berjalan melalui skema Penelitian Produk Prototype FEB UNJ.

SMK Negeri 16 Jakarta menjadi sekolah mitra dalam pengembangan sistem tersebut.

Business intelligence mengubah kumpulan catatan mentah menjadi informasi untuk pengambilan keputusan.

Dr. Susan Febriantina, S.Pd., M.Pd., memimpin penelitian ini.

Ia bekerja bersama Rayi Dwipanilih, S.E., S.Kom., M.M.; Roni Faslah, S.Pd., M.M.; Suherdi, S.Pd., S.H., M.M.; Muhammad Ikhwan, S.Pd., M.Pd.; Rizki Firdausi Rachmadania, S.E., M.SM.; dan Wida Aristanti, S.AP., M.AP.

BACA JUGA: USB YPKP Luncurkan SIM (Transformasi Digital) Pelayanan PKK untuk Kecamatan Cibeunying Kidul

Gantikan Sistem Manual dengan Otomatisasi Data

Sebelum tim mengembangkan sistem ini, sekolah mitra masih mengelola data pelatihan guru secara manual melalui lembar kerja terpisah.

Selain itu, hasil penilaian kinerja guru tercatat dalam formulir kertas yang tidak terhubung dengan catatan pelatihan.

Kondisi tersebut menyebabkan proses penelusuran riwayat pengembangan seorang guru atau penyusunan laporan tahunan memakan waktu berhari-hari.

Untuk menjawab tantangan itu, dasbor yang tim peneliti kembangkan menyediakan tampilan berbeda sesuai peran penggunanya.

Dasbor menampilkan catatan pengembangan setiap guru.

Sementara itu, kepala sekolah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai seluruh tenaga pendidik.

Alur kerja dalam sistem ini juga berlangsung sederhana.

Guru mengunggah bukti pelatihan ke dalam sistem.

Selanjutnya, pimpinan sekolah memeriksa dan menyetujuinya.

Setelah pimpinan menyetujui, sistem langsung menghitung jam pelatihan dalam catatan tahunan.

BACA JUGA: 4 Guru Besar ITB Orasi Ilmiah 13 Juni, Prof Acep Bedah Ruang Belajar

Penilaian Kinerja Otomatis dan Rekomendasi Pelatihan

Sistem ini menerapkan standar penilaian kinerja guru yang berlaku secara nasional.

Dengan demikian, sistem menghitung skor dan predikat secara otomatis.

Oleh karena itu, sekolah tidak perlu lagi mengolahnya secara manual.

Lebih lanjut, berdasarkan hasil penilaian tersebut, sistem juga menyarankan bidang pelatihan yang masing-masing guru perlu perkuat.

Tak hanya itu, sistem mencetak seluruh catatan menjadi laporan rapi untuk guru dan rekap sekolah.

Tim peneliti telah memindahkan catatan pelatihan guru dari beberapa tahun terakhir ke dalam sistem sebagai data awal.

Setelah itu, mereka menguji prototipe langsung bersama para pengguna di sekolah.

Pengujian melibatkan administrator, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, hingga staf tata usaha.

BACA JUGA: Nobar Pernyataan Pers Tahunan Menlu 2026: UKRI Jadi Pusat Dialog Kebijakan Luar Negeri

Efisiensi Waktu Capai Level Tertinggi, Pengguna Beri Nilai Sangat Baik

Hasil pengujian menunjukkan tingkat kemudahan penggunaan sistem berada pada kategori sangat baik.

Para pengguna menilai fitur penelusuran riwayat pelatihan, tampilan ringkasan kinerja, dan laporan yang tersusun otomatis sebagai bagian yang paling membantu pekerjaan mereka sehari-hari.

Temuan paling menonjol muncul dari sisi efisiensi kerja.

Uji coba membuktikan sistem memangkas waktu administrasi secara sangat besar.

Penghematan terbesar terjadi pada penyusunan laporan.

Sebelumnya, proses itu menuntut pencarian berkas dan koordinasi berulang.

Kini, pengguna dapat menyelesaikannya hanya dalam beberapa langkah.

Dari sisi kesesuaian isi, pihak sekolah menilai sistem ini dan siap menerapkan di sekolah.

Pengguna memberi masukan. Tim peneliti menyempurnakan tampilan telepon genggam dan Tim peneliti memperjelas keterangan status data, mempermudah penelusuran menu utama.

BACA JUGA: Kontribusi Alumni ITB untuk Kemajuan Bangsa

Menuju Pengelolaan SDM Pendidikan yang Terukur dan Digital

Melalui sistem ini, tim peneliti berharap pengelolaan kompetensi guru menjadi lebih terukur dan terdokumentasi.

Dengan begitu, kepala sekolah dapat memantau perkembangan tenaga pendidik berdasarkan data yang tercatat, bukan berdasarkan perkiraan.

Di sisi lain, guru mendapat gambaran jelas mengenai capaian pengembangan diri.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang membuat data guru tidak lagi tercecer dan pengambilan keputusan berbasis data menjadi mungkin dilakukan di tingkat sekolah,” ujar Dr. Susan Febriantina.

Karena pengembang membangun sistem ini dengan teknologi tanpa perangkat mahal maupun biaya lisensi, sekolah lain dengan kondisi serupa bisa menerapkan.

Ke depan, tim peneliti menargetkan sistem tersebut menjadi dasar bagi pengelolaan sumber daya manusia digital di lingkungan pendidikan vokasi.    Red

Komentar