Tiru Inovasi Kota Bandung, Subulussalam Pacu Layanan Publik dan Pendidikan

KABARHARMONI | BANDUNG, – Perjalanan belasan jam, tiket pesawat hangus, hingga harus membeli tiket baru tidak menghalangi tekad rombongan Pemerintah Kota dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Subulussalam, Provinsi Aceh.

Mereka hadir ke Balai Kota Bandung pada Senin, 6 Juli 2026, dengan misi tunggal: belajar mempercepat pembangunan.

Wali Kota Subulussalam H M Rasyid Bancin memimpin rombongan bersama Ketua DPRK Subulussalam Ade Fadly Pranata Bintang dan sejumlah kepala perangkat daerah untuk mempelajari resep kemajuan Kota Bandung.

“Kami datang bukan untuk berwisata. Kami datang untuk belajar dan memotong panjangnya proses pembangunan. Kesalahan yang pernah dihadapi Kota Bandung jangan sampai harus kami alami lagi,” ujar Rasyid.

BACA JUGA: Belajar ke Kota Bandung: Pemkot Padang Kupas Tuntas Digitalisasi Parkir

Subulussalam Hadapi PR Besar: SDM dan PAD

Sebagai kota termuda di Aceh, Subulussalam menghadapi tantangan besar.

Wilayahnya membentang seluas 1.391 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 107 ribu jiwa.

Saat ini, pemerintah daerah masih berupaya keras meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta membenahi layanan publik.

Rasyid membeberkan kondisi SDM di daerahnya masih jauh dari ideal.

“SDM kami masih rendah. Jumlah doktor di Subulussalam baru tujuh orang, profesor belum ada. Karena itu kami menjadikan Bandung sebagai tempat belajar,” ujar Rasyid.

Oleh karena itu, kunjungan ke Bandung tidak bersifat seremonial.

Pemerintah Kota dan DPRK Subulussalam menargetkan membawa pulang ide serta inovasi konkret untuk mempercepat pembangunan.

“Kami ingin memangkas jarak ketertinggalan. Tidak perlu menunggu puluhan tahun untuk belajar dari kesalahan yang sama. Kami ingin langsung mengambil praktik-praktik terbaik yang sudah dilakukan Kota Bandung,” kata Rasyid.

BACA JUGA: Kolaborasi Bandung-Kotawaringin Timur: Kerja Sama Dongkrak PAD Lewat Digitalisasi

Bandung Andalkan Perguruan Tinggi sebagai Mesin Penggerak

Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memaparkan perjalanan panjang Kota Bandung hingga menjadi salah satu kota kreatif dan pusat pendidikan di Indonesia.

Menurut Farhan, keberadaan perguruan tinggi menjadi kunci utama kemajuan.

“Semakin banyak dan semakin maju perguruan tinggi di sebuah kota, semakin cepat kota itu melakukan lompatan pembangunan. Perguruan tinggi adalah mesin penghasil sumber daya manusia terbaik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Farhan menjelaskan ekosistem pendidikan di Bandung tumbuh dari kampus-kampus besar seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hingga puluhan perguruan tinggi lainnya.

Dari kampus-kampus tersebut lahir industri kreatif, perusahaan rintisan digital, hingga berbagai inovasi yang kini menopang ekonomi Kota Bandung.

“Kami tidak punya tambang, tidak punya perkebunan sawit, dan lahannya terbatas. Yang kami miliki adalah sumber daya manusia,” kata Farhan.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Terima Kunjungan Studi Banding Pemkab Tanah Laut

Adopsi Inovasi Layanan Publik dan Keterbukaan Data

Selain pendidikan, rombongan Subulussalam juga menyoroti inovasi pelayanan publik Pemkot Bandung.

Khususnya di bidang administrasi kependudukan, Kota Bandung telah menerapkan berbagai kemudahan.

Saat ini, Pemkot Bandung menerbitkan akta kelahiran secara gratis.

Selain itu, Pemkot memproses akta kematian dalam waktu singkat.

Pemkot juga menerbitkan kartu keluarga bagi pasangan yang menikah melalui integrasi sistem dengan Kantor Urusan Agama (KUA).

“Administrasi kependudukan yang baik adalah fondasi pembangunan. Kalau datanya rapi, kebijakan pemerintah pun akan lebih tepat sasaran,” tutur Farhan.

Tidak hanya itu, Farhan menegaskan keterbukaan data menjadi kekuatan Bandung dalam merumuskan kebijakan.

Meski berstatus kota besar, Bandung tetap terbuka terhadap persoalan masyarakat.

Contohnya, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.700 ton sampah setiap hari.

Namun, penanganan belum sepenuhnya optimal.

“Kami terbuka dengan masalah yang kami hadapi. Dari 1.700 ton sampah per hari, masih ada yang belum bisa tertangani secara maksimal. Tetapi dengan keterbukaan itu, banyak pihak datang membantu mencari solusi,” katanya.

BACA JUGA: Kota Bandung Belajar dari Banyumas: Percepat Pengelolaan Sampah Menuju 80 Persen

Pesan Penting: Tata Ruang dan Daya Dukung Lingkungan

Farhan juga mengingatkan Subulussalam agar memperhatikan perencanaan tata ruang sejak awal.

Pasalnya, Bandung kini menghadapi kepadatan penduduk, keterbatasan lahan, hingga menurunnya daya dukung lingkungan.

“Kalau ada satu pelajaran yang bisa diambil dari Bandung, jangan sampai pembangunan berjalan tanpa memikirkan konektivitas dan daya dukung lingkungannya,” ujar Farhan.

BACA JUGA: Bandung dan Kawasaki Perkuat Kerja Sama Zero Defecation: Kolaborasi Jangka Panjang untuk Lingkungan Bersih

Diskusi Teknis Lanjutkan Agenda Kerja Sama

Usai pertemuan di Balai Kota, rombongan Pemerintah Kota dan DPRK Subulussalam melanjutkan diskusi teknis dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Bandung.

Dalam forum tersebut, kedua belah pihak mendalami berbagai program unggulan.

Program itu mencakup layanan perizinan, administrasi kependudukan, pengembangan ekonomi kreatif, hingga pengelolaan sampah.

Dengan langkah ini, Subulussalam berharap dapat segera menerapkan praktik terbaik dari Bandung untuk mendorong kemajuan daerah.    Red

Komentar