KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendukung penuh upaya penguatan deteksi dini dan pencegahan thalasemia.
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bersama RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita menginisiasi upaya ini melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bagi Penyandang Thalasemia dan Keluarga.
Kegiatan berlangsung di Trans Studio Bandung, Minggu, 27 Juli 2026.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Anak Nasional 2026 sekaligus peringatan HUT ke-103 RSHS.
Sebanyak 484 penyandang thalasemia hadir dalam kegiatan tersebut.
Pemkot Bandung Apresiasi Inovasi RSHS dan RSAB Harapan Kita
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengapresiasi kolaborasi RSHS dan RSAB Harapan Kita.
Menurutnya, kedua rumah sakit menghadirkan layanan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada aspek pencegahan dan peningkatan kualitas hidup pasien.

“Atas nama Pemkot Bandung, kami mengapresiasi inisiatif RSHS dan RSAB Harapan Kita yang terus menghadirkan inovasi dalam penanganan thalasemia. Upaya seperti ini sangat penting karena membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit genetik,” ujar Farhan.
Lebih lanjut, ia menyatakan pemerintah daerah siap mendukung berbagai program yang mendorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Dukungan itu Pemkot wujudkan melalui kolaborasi dengan rumah sakit, institusi pendidikan, dan pemerintah pusat.
“Pemkot Bandung mendukung setiap langkah yang memperkuat edukasi kesehatan, skrining, serta pendampingan bagi penyandang thalasemia dan keluarganya. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar layanan kesehatan semakin berkualitas dan mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Farhan juga menilai kehadiran RSHS sebagai rumah sakit rujukan nasional telah memberikan kontribusi besar terhadap pelayanan kesehatan di Kota Bandung dan Jawa Barat.
“Kehadiran RSHS benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kami berharap sinergi yang telah terjalin dengan berbagai institusi kesehatan terus berkembang sehingga masyarakat memperoleh akses pelayanan yang semakin baik, termasuk dalam upaya pencegahan thalasemia,” tuturnya.
Jabar Soroti Prevalensi Tinggi Thalasemia di Wilayahnya
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyampaikan apresiasi kepada RSHS, RSAB Harapan Kita, Kementerian Kesehatan, serta seluruh tenaga kesehatan dan peneliti yang menggagas kegiatan tersebut.
Menurutnya, thalasemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan kerja sama semua pihak.
Data menunjukkan prevalensi pembawa sifat thalasemia di Indonesia mencapai sekitar 3-10 persen dari populasi.
Dari jumlah itu, sekitar 40 persen penyandang berada di Jawa Barat.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen memperkuat upaya edukasi, deteksi dini, dan pendampingan sehingga angka kasus thalasemia dapat terus ditekan. Harapannya kualitas hidup para penyandang juga semakin baik,” ujar Erwan.
BACA JUGA: Kota Bandung Tuan Rumah SIBS ASEAN 2026, Buka Peluang Investasi Baru Bersama Selangor
RSHS dan RSAB Harapan Kita Perkuat Skrining Genetik
Di tempat yang sama, Direktur Utama RSHS Bandung dr. H Rachim Dinata Marsidi mengatakan RSHS berkomitmen mengabdi kepada masyarakat dan melayani penyandang thalasemia.
RSHS ingin menghadirkan pelayanan kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi dengan RSAB Harapan Kita memperkuat upaya penelitian sekaligus edukasi kepada keluarga penyandang thalasemia.
Tujuannya agar keluarga memahami pentingnya deteksi dini dan skrining genetik.
Senada dengan itu, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati menyebut RSHS merupakan rumah sakit regional terbaik di Indonesia.
RSHS memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan layanan kesehatan nasional.
“Saya menjadi saksi bahwa program nasional tidak akan mampu menjangkau masyarakat tanpa kerja keras rumah sakit-rumah sakit regional. Karena itu, kolaborasi dengan RSHS menjadi contoh nyata bagaimana penelitian dan pelayanan kesehatan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, fokus utama kegiatan tahun ini adalah mengajak keluarga penyandang thalasemia untuk mengikuti skrining genetik.
Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui status pembawa sifat atau carrier sejak dini.
Langkah ini mencegah munculnya kasus baru pada generasi berikutnya.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Wajibkan Semua Fasilitas Kesehatan Layani Pasien Tanpa Pandang Biaya
484 Penyandang Thalasemia Ikuti Edukasi dan Skrining
Rumah sakit, pemerintah, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat berkolaborasi untuk memperkuat upaya pencegahan thalasemia melalui kegiatan ini.
Upaya ini juga bertujuan meningkatkan kualitas hidup para penyandang dan keluarganya di Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menggelar edukasi mengenai thalasemia, pemutaran video testimoni pasien, dan paparan hasil program.
Selain itu, tim juga mengambil 90 sampel air liur sebagai bagian dari penelitian dan penguatan skrining genetik. Red







Komentar