KABARHARMONI | BANDUNG, – Di kawasan Jalan Pajajaran, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang industri farmasi nasional.
Eks Pabrik Kina Bandung telah berdiri sejak 29 Juni 1896 dengan nama awal Bandoengsche Kinine Fabriek N.V.
Pada masanya, pabrik ini memegang peran strategis.
Kina menjadi bahan utama produksi obat malaria.
Tingginya kebutuhan pengobatan malaria di wilayah Hindia Belanda membuat industri kina berkembang pesat.
Berganti Tangan Seiring Zaman
Perjalanan pengelolaan pabrik mengalami beberapa kali perubahan.
Pada 1939, pengelolaan pabrik beralih ke Indische Combine Voor Chemische Industrie atau Inschen.
Kemudian saat pendudukan Jepang sekitar 1942, Jepang mengambil alih pabrik dan mengganti namanya menjadi Rikuyun Kinine Seizoshyo.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Belanda kembali mengambil alih pengelolaan.
Namun status itu tidak bertahan lama.
Pemerintah Indonesia menasionalisasi pabrik pada 1958.
Sejak saat itu, Pabrik Kina menjadi bagian dari perusahaan negara di bidang farmasi dan alat kesehatan.
Selanjutnya pabrik berkembang hingga menjadi PT Kimia Farma (Persero) Tbk.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Rancang Aturan Permanen untuk Pelestarian Cagar Budaya
“Nilai Sejarahnya Sangat Tinggi”
Manajer Pengelolaan Aset PT Kimia Farma, Hilman Firmansyah, menegaskan keberadaan eks Pabrik Kina merupakan bagian penting dari sejarah panjang Kimia Farma sekaligus industri farmasi di Indonesia.
“Pabrik Kina ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Berdiri sejak 1896, kawasan ini menjadi bagian dari perjalanan industri farmasi Indonesia dan menunjukkan bagaimana Bandung pada masa itu sudah terhubung dengan perdagangan kina dunia,” ujar Hilman.
Menurut Hilman, pada masa kejayaannya produksi kina dari Bandung tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal.
Produk tersebut juga masuk dalam jaringan perdagangan kina internasional.
Berbagai catatan sejarah membuktikan hal tersebut.
Salah satunya hubungan perdagangan kina dengan sejumlah negara, termasuk Rusia.
Dokumen perdagangan pada 1916 mencatat adanya transaksi dan kredit untuk pengiriman kina ke Rusia.
BACA JUGA: SDN 001 Merdeka: Sekolah Tertua di Bandung yang Kokoh Selama 141 Tahun
Peran Kina di Masa Pendudukan Jepang
Memasuki masa pendudukan Jepang, distribusi kina mengalami pergeseran besar.
Produksi pil dan tablet kina dari Bandung sebagian besar dikirim ke Jepang dan wilayah lain.
Tujuannya untuk mendukung kepentingan Jepang dalam Perang Pasifik.
Sementara itu, untuk kebutuhan masyarakat, Jepang menyediakan tota kina.
Tota kina merupakan kina mentah yang masih mengandung berbagai alkaloid di dalamnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi Pabrik Kina tidak hanya berhenti pada kesehatan masyarakat.
Industri ini juga terkait erat dengan dinamika perdagangan dan politik global.
“Ini bukan hanya cerita tentang sebuah bangunan atau pabrik, tetapi tentang bagaimana sebuah industri di Bandung pernah memiliki peran dalam rantai pasok kina dunia. Karena itu, nilai sejarahnya penting untuk terus dikenalkan kepada generasi sekarang,” kata Hilman.
BACA JUGA: Iman Lestariyono Hadiri Sosialisasi Perda Nomor 6 Tahun 2025: Meningkatkan Pengelolaan Cagar Budaya di Kota Bandung
Pindah ke Banjaran, Warisan Tetap di Pajajaran
Seiring waktu dan tuntutan operasional yang lebih modern, PT Kimia Farma memindahkan pabrik kina ke lokasi baru.
Pada 2020, PT Kimia Farma memusatkan kegiatan produksi ke pabrik baru di Banjaran, Kabupaten Bandung.
Meski operasionalnya telah pindah, eks Pabrik Kina di Pajajaran tetap menjadi saksi bisu.
Kawasan ini kini menjadi pengingat atas perjalanan panjang industri farmasi di Indonesia.
Lebih dari itu, keberadaannya menjadi bukti bahwa Bandung memiliki sejarah industri yang terhubung langsung dengan dinamika kesehatan dan perdagangan global selama lebih dari satu abad.
Dengan demikian, eks Pabrik Kina bukan sekadar bangunan tua.
Ia adalah penanda bahwa dari Bandung, Indonesia pernah menjadi bagian penting dalam rantai pasok obat dunia. Red







Komentar