Wali Kota Farhan Jamin 28 Halte BRT Rampung 2 Minggu, Kemacetan Bersifat Sementara

KABARHARMONI | BANDUNG, – Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di tengah Jalan Cicadas memicu keluhan warga.

Warga khawatir pembangunan itu memicu kemacetan dan mengancam keselamatan pengguna jalan.

Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan Pemkot Bandung terus mengawasi dan mengoordinasikan proyek itu.

Farhan ingin proses pembangunan tidak mengganggu aktivitas warga dalam waktu lama.

Farhan Prediksi Kemacetan, Target Selesai 2 Minggu

Saat ditemui usai kegiatan di Lapangan Puter, Kecamatan Coblong, Jumat 11 September 2026, Farhan mengakui pihaknya sudah memprediksi dampak kemacetan sejak awal.

“Itu sudah diduga sebelumnya. Jadi saya sedang komunikasi bagaimana cara meminimalkan kemacetan supaya pengerjaannya tidak menimbulkan kemacetan,” ujar Farhan.

Meski begitu, Farhan menegaskan kondisi itu hanya berlangsung sementara.

Ia menerima informasi bahwa kontraktor menargetkan pengerjaan selesai cepat.

“Tapi ini hanya sementara saja. Pengerjaan akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama dua minggu, setelah itu lancar, persis seperti yang di Jalan Jakarta. Itu juga cepat, dalam dua minggu selesai,” katanya.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk PSO BRT, Pembayaran Ditahan Tunggu Kesepakatan 6 Daerah

Alasan Halte Tanpa JPO dan Fokus Keselamatan Penyandang Disabilitas

Warga juga menyoroti desain halte di tengah jalan yang tidak dilengkapi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Farhan menjelaskan keterbatasan ruang menjadi pertimbangan utama.

“Kenapa tidak dibikin JPO? Karena terlalu sempit kalau untuk JPO. Maka akhirnya dibikinlah jalan seperti itu,” ungkapnya.

Kendati demikian, Farhan menyatakan Pemkot Bandung menempatkan keselamatan sebagai prioritas.

Tim akan terus memantau dampak pembangunan terhadap pengguna jalan, khususnya kelompok rentan.

“Kita akan amati terus, karena saya juga tidak mau sampai terjadi kecelakaan. Ditambah lagi, dengan lantai halte yang tinggi, tentu akan ada kesulitan juga bagi penyandang disabilitas,” katanya.

BACA JUGA: Satpol PP Bandung Perluas Penataan PKL ke Kawasan Strategis Prioritaskan Jalur BRT Cicadas

Pemkot Bolak-balik Jakarta, Koordinasi dengan Kemenhub dan Bappenas

Untuk memastikan proyek berjalan sesuai standar, Farhan mengaku intens berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

“Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta terus, ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat,” tuturnya.

Saat ditanya opsi pelebaran jalan, Farhan menolak.

Ia beralasan trotoar di kawasan itu sudah selesai dibangun.

“Enggak. Soalnya kan trotoarnya sudah jadi,” ujarnya.

BACA JUGA: Groundbreaking BRT Bandung Raya Dimulai, Farhan: Angkot Bertransformasi Jadi Feeder Listrik

Total Ada 28 Halte On Koridor, Sosialisasi BRT Masih Minim

Farhan juga meluruskan bahwa halte di Cicadas bukan satu-satunya. Secara keseluruhan, proyek BRT membangun 28 halte di koridor utama atau di tengah jalan.

“Jangan khawatir, total semuanya 28 halte on koridor,” katanya.

Ia menilai minimnya informasi menjadi sumber keluhan terbesar warga.

Karena itu, Farhan meminta pengelola BRT meningkatkan sosialisasi secara masif.

“Betul. Itu sebabnya saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT. Kalau saya kan mewakili warga,” ujarnya.

Farhan menekankan warga berhak tahu tahapan pembangunan, dampak lalu lintas, hingga alternatif mobilitas.

“Kita akan teriak terus, ‘Pak, ieu kumaha? Kenapa kita nggak dikasih tahu? Kenapa kita nggak diberi alternatif?’

Ini yang kami lakukan terus untuk menekan BRT, memberikan sosialisasi yang lebih banyak, termasuk sosialisasi kepada parkir dan juga pedagang,” katanya.

BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Jalur BRT: Persiapan untuk Transportasi Massal yang Efisien, akan Dibangun 34 Halte BRT

Dinas Perhubungan Kerahkan Petugas Pagi hingga Malam, Atur Lalu Lintas

Untuk mengantisipasi kemacetan, Dinas Perhubungan Kota Bandung akan menerapkan rekayasa lalu lintas selama masa konstruksi.

“Kalau dari Dishub, bagaimanapun juga, kita akan mengatur sedemikian rupa sehingga kalau kemacetan tidak terhindarkan. Ketika ada pekerjaan di pinggir jalan atau di tengah jalan, pasti macet,” ujarnya.

Farhan menambahkan Dishub akan menempatkan petugas di titik rawan sejak pagi hingga malam.

“Pengaturan akan dilakukan sepagi mungkin sampai semalam mungkin. Akan ada petugas di setiap titik. Saya akan atur sedemikian rupa,” pungkasnya.     Red

Komentar