KABARHARMONI | BANDUNG, – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk mempercepat peningkatan pengelolaan sampah perkotaan dengan belajar langsung dari Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.
Banyumas berhasil mengolah hingga 78 persen timbulan sampah harian.
Belajar dari Sukses Banyumas
Farhan menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Launching RDF dan Recycling Center Kabupaten Banyumas di TPST Gawa Berkah, Desa Sokaraja Kulon, Selasa, 3 Februari 2026.
Jajaran Dinas Lingkungan Hidup serta tujuh camat yang wilayahnya memiliki persoalan sampah cukup serius melakukan kunjungan ini bersama-sama.
Farhan mengungkapkan, saat ini Kota Bandung masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah.
Kota Bandung hanya mampu mengolah sekitar 22 persen dari total produksi lebih dari 1.500 ton sampah per hari.

“Saya tidak melihat berapa besar sampah yang dikelola, tapi rasionya. Banyumas sudah 78 persen, Bandung baru 22 persen. Artinya kami masih punya masalah besar dan harus banyak belajar,” ujar Farhan.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Proyek Pembangunan Ulang TPST untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Target 80 Persen Pengolahan Sampah
Menteri mengirimkan surat resmi kepada Pemkot Bandung, berisi parameter kuantitatif untuk pengelolaan sampah terintegrasi.
Menurut Farhan, arah kebijakan pengelolaan sampah harus sejalan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sebagaimana arahan Presiden.
Oleh karena itu, Pemkot Bandung terus mendorong inovasi, baik dari sisi teknologi maupun manajemen.

“Tidak ada one fix for all dalam pengelolaan sampah. Teknologi sangat tergantung pada volume, jenis sampah, dan budaya masyarakat. Bandung punya karakteristik sendiri, termasuk tidak memiliki TPA,” katanya.
Program Gas Lah Jadi Pembeda
Farhan menambahkan, Pemkot Bandung telah meluncurkan program Gas Lah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah) di 1.596 RW sebagai salah satu langkah konkret.
Satu petugas di setiap RW memastikan rumah tangga melakukan pemilahan sampah langsung.
“Petugasnya mengetuk pintu rumah warga, memastikan sampah dipilah. Sampah organik harus selesai di tingkat kelurahan, sementara anorganik diolah lebih lanjut,” jelasnya.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Luncurkan Strategi Pemilahan Sampah di Tingkat RW untuk Atasi Krisis Sampah
Banyumas Jadi Benchmark
Ia menilai, keberhasilan Banyumas bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada ekosistem dan integritas tata kelola.
Transparansi dan integritas mencegah penyalahgunaan pengelolaan sampah..
“Kami ingin belajar bagaimana Banyumas menjaga integritas pengelolaan sampah, sehingga tata kelolanya berjalan baik dan berkelanjutan,” ujar Farhan.

Farhan mengapresiasi Banyumas sebagai salah satu benchmark pengelolaan sampah terbaik di Indonesia dan menegaskan komitmen Pemkot Bandung untuk melakukan scaling up pengelolaan sampah secara bertahap.
“Target kami jelas, bergerak dari 22 persen menuju 80 persen pengolahan sampah. Belajar dari Banyumas adalah bagian dari solusi jangka pendek dan proyeksi jangka panjang Kota Bandung,” ungkapnya.
BACA JUGA: Targetkan Kota Lebih Bersih, Pemkot Bandung Prioritaskan Pengelolaan Sampah dalam RAPBD 2026
Perubahan Paradigma di Banyumas
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di daerahnya merupakan hasil perubahan paradigma.
Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya bernilai ekonomi.
Banyumas mengelola sampah dengan desentralisasi berbasis TPST, TPS 3R, dan recycling center KSM sejak 2018, tanpa TPA konvensional dan incinerator!

“Sekarang Banyumas punya sekitar 45 unit TPST, TPS 3R, dan PDU yang aktif. Kami menyerap lebih dari 1.500 tenaga kerja, mayoritas ibu-ibu yang memilah sampah,” kata Sadewo.
Efisiensi Anggaran dan Pendapatan
Dari sisi anggaran, Sadewo mengungkapkan, efisiensi yang signifikan.
Biaya pengelolaan sampah yang semula mencapai Rp40 miliar per tahun pada 2018. Kini turun menjadi di bawah Rp10 miliar pada 2025.
Bahkan, Banyumas mulai menghasilkan pendapatan dari pengolahan sampah melalui RDF dan daur ulang plastik.
KSM menandatangani kerja sama dengan mitra swasta dan meluncurkan RDF serta Recycling Center di TPST Sokaraja Kulon pada kesempatan tersebut.
Ke depan, Pemkab Banyumas menargetkan pembangunan minimal 10 RDF dan Recycling Center sebagai penguat ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Camat Bandung Belajar dari Banyumas

Sejumlah camat di Kota Bandung melakukan kunjungan kerja ke TPST dan RDF Center Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Selasa 3 Februari 2026. Sebagai upaya memperdalam pemahaman pengelolaan sampah berbasis teknologi dan ramah lingkungan.
Kunjungan tersebut dipimpin Camat Ujungberung sekaligus Ketua Paguyuban Camat Kota Bandung, Abriwansyah Fitri, bersama Camat Coblong, Astanaanyar, Gedebage, Bandung Kulon, Bandung Kidul, dan Regol.
Abriwansyah mengatakan, Banyumas dianggap telah berhasil mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan akhir.

“Setelah kami lihat langsung, prosesnya benar-benar terukur dan teruji. Semua sampah diolah, tidak ada yang terbuang,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem pengelolaan sampah di TPST RDF Center Sokaraja dimulai dari pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu.
Ketiganya memiliki alur pengolahan masing-masing yang saling terintegrasi.
“Sampah organik menjadi pupuk, anorganik diolah menjadi produk dan RDF sebagai bahan bakar alternatif, sementara residu tetap diproses,” ujarnya.
Meski demikian, Abriwansyah menyebut, penerapan di Kota Bandung tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan Banyumas. Mengingat perbedaan kultur masyarakat dan volume sampah harian.
“Yang kita ambil adalah proses dan pola kerjanya, bukan menyalin mentah-mentah,” katanya.
Ia menilai, Kota Bandung memiliki keunggulan tersendiri melalui program Gaslah yang berfokus pada perubahan perilaku masyarakat dari sumber sampah.
“Gaslah menjadi pembeda Bandung. Petugas turun langsung ke rumah warga untuk mengedukasi dan membangun kebiasaan memilah sampah,” jelasnya.
BACA JUGA: Kebersihan Kota Bandung: Dedikasi dan Pengorbanan Para Petugas Kebersihan
Saat ini, Paguyuban Camat terus mendorong percepatan pembentukan dan pendataan petugas Gaslah di tingkat kelurahan. Sesuai target Wali Kota Bandung sebanyak 1.596 petugas.
“Kami terus mengingatkan wilayah yang masih belum memenuhi target. Ini proses yang harus konsisten,” ujarnya.
Abriwansyah berharap, pembelajaran dari Banyumas dapat memperkuat sinergi antar camat dalam mempercepat pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kota Bandung. Red







Komentar