Wali Kota Farhan: Rumah Belajar Sabilulungan Kunci Akses Pendidikan Anak Bandung

KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan tanpa terkecuali.

Upaya tersebut tidak hanya berjalan melalui kebijakan pemerintah.

Selain itu, Pemkot Bandung memperkuatnya melalui kolaborasi bersama masyarakat.

Salah satu wujud nyata kolaborasi itu adalah keberadaan Rumah Belajar Sabilulungan.

Dialog Hangat Farhan dengan Siswa Rumah Belajar

Hal tersebut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, sampaikan saat memberikan sambutan.

Ia berbicara dalam acara Sareundeuk Saigel Sabilulungan Rumah Belajar di Pendopo Kota Bandung, Senin 29 Juni 2026.

Dalam suasana penuh kehangatan, Farhan berdialog langsung dengan para siswa.

Anak-anak itu antusias menceritakan pengalaman mereka mengikuti kegiatan belajar.

Ketika Farhan bertanya mengapa senang belajar di Rumah Belajar Sabilulungan, anak-anak kompak menjawab.

Mereka menyebut gurunya baik, ceria, dan mengajar dengan menyenangkan.

Bagi Farhan, jawaban sederhana itu menjadi bukti nyata.

Pendidikan yang menghadirkan rasa nyaman mampu menumbuhkan semangat belajar anak.

“Ketika mendengar jawaban jujur dari anak-anak, ada kebahagiaan tersendiri. Semua yang kita lakukan untuk mereka terasa sangat berharga,” kata Farhan.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Kucurkan Rp43,22 Miliar untuk Pendidikan: Farhan Soroti Kesehatan Mental Pelajar

Relawan Justru Dapat Inspirasi dari Guru

Farhan pun mengenang pengalamannya mengikuti program Sekolah Inspirasi beberapa tahun silam.

Saat itu, para profesional dari berbagai bidang mendapat kesempatan mengajar di sekolah dasar.

Namun demikian, ia menilai para relawan justru memperoleh pelajaran berharga.

Mereka belajar tentang besarnya dedikasi seorang guru.

“Dulu kami datang dengan niat memberi inspirasi. Ternyata justru kami yang mendapatkan inspirasi. Dari situ saya semakin memahami betapa luar biasanya perjuangan para guru dalam mendidik anak-anak,” ujarnya.

Farhan menilai semangat serupa juga hadir di Rumah Belajar Sabilulungan.

Menurutnya, para relawan tidak hanya memberikan ilmu kepada anak-anak.

Sebaliknya, mereka juga memperoleh pelajaran tentang kepedulian, harapan, dan kebahagiaan.

Ia mengibaratkan pembangunan bangsa dimulai dari perhatian kepada setiap anak.

“Kalau membangun rumah dilakukan bata demi bata, maka membangun bangsa dimulai dari anak demi anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, di hadapan para siswa, Farhan mengajak mereka mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris.

Baginya, keberanian anak-anak memperkenalkan diri menjadi gambaran.

Akses terhadap pendidikan berkualitas mampu meningkatkan rasa percaya diri.

BACA JUGA: Ketua DPRD Kota Bandung Temukan Masalah mulai dari Infrastruktur Sekolah hingga Kebutuhan Guru

Hadapi Tantangan, Pemkot Tawarkan Solusi Sekolah Rakyat

Meski demikian, Farhan mengakui masih terdapat tantangan besar dalam pemerataan pendidikan di Kota Bandung.

Selain persoalan ekonomi, kini semakin banyak anak kehilangan akses pendidikan.

Penyebabnya antara lain persoalan psikologis maupun kondisi keluarga.

Ia mengungkapkan, selama berkantor keliling di berbagai kelurahan, tim hampir selalu menemukan kasus serupa.

Ada anak yang sebenarnya memiliki kesempatan bersekolah.

Namun, mereka memilih tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai persoalan di rumah.

“Keterbatasan akses pendidikan bukan hanya karena ekonomi. Ada juga faktor psikologis dan kondisi keluarga yang membuat anak enggan bersekolah,” ujarnya.

Sebagai contoh, Farhan mencontohkan kasus seorang anak berusia sembilan tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, anak tersebut akhirnya mengikuti program Sekolah Rakyat.

Program itu menjadi solusi agar anak tetap memperoleh hak belajar.

Menurutnya, keberadaan Rumah Belajar Sabilulungan menjadi pelengkap penting bagi sistem pendidikan formal.

Sebab, rumah belajar mampu menjangkau anak-anak yang membutuhkan pendekatan lebih fleksibel.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Dukung Pembangunan Sekolah Rakyat, Namun Terhambat Ketersediaan Lahan

Pastikan KIA dan Jaga Tiga Layanan Dasar Anak

Selain memperluas akses pendidikan, Farhan menekankan pentingnya kepemilikan dokumen administrasi kependudukan bagi setiap anak.

Untuk itu, ia meminta seluruh anak memastikan memiliki Kartu Identitas Anak (KIA).

Dengan KIA, anak dapat mengakses berbagai layanan pemerintah, termasuk pendidikan dan bantuan sosial.

Farhan juga menegaskan, Pemkot Bandung terus menjaga tiga layanan dasar yang menjadi prioritas pembangunan.

Ketiga layanan itu meliputi akses pendidikan, layanan kesehatan, dan administrasi kependudukan.

Di sektor pendidikan, Pemkot Bandung menargetkan rata-rata lama sekolah warga terus meningkat hingga mencapai 12 tahun.

Sementara di bidang kesehatan, Farhan memastikan tidak boleh ada masyarakat yang ditolak saat membutuhkan pelayanan medis.

Hal ini berlaku terlepas dari status administrasi kependudukannya.

BACA JUGA: Muhammad Farhan meminta Lurah dan Camat Dorong Kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) untuk Seluruh Anak di Kota Bandung

Ajak Gotong Royong Wujudkan Bandung Ramah Anak

Pada akhirnya, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat terus bergotong royong.

Tujuannya adalah mewujudkan Bandung sebagai kota yang semakin ramah anak dan nyaman dihuni.

Ia menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Beberapa di antaranya meliputi penyediaan ruang bermain yang layak hingga penguatan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Kolaborasi seperti inilah yang akan membuat Kota Bandung menjadi kota yang benar-benar layak dan nyaman bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan,” tuturnya.    Red

Komentar