BMKG: El Niño Sangat Kuat Picu Kemarau Luas, 559 Wilayah Indonesia Alami Curah Hujan Rendah

KABARHARMONI | JAKARTA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG): El Niño sangat kuat dan IOD positif jadi faktor utama penyebab kemarau luas di Indonesia.

Selain itu, BMKG merilis hasil analisis dasarian II Agustus 2026 yang menunjukkan kondisi kemarau semakin meluas.

Data mencatat 79,9% wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM) kini mengalami curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal.

Akibat berkurangnya curah hujan tersebut, kerentanan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan meningkat di sejumlah provinsi.

868 Titik Panas Terdeteksi, Asap Meluas ke 12 Provinsi

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 23 Agustus 2026, BMKG mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah.

Rinciannya, Sumatra mencatat 299 titik, Kalimantan 383 titik, serta Papua dan Maluku 186 titik.

Totalnya mencapai 868 titik panas.

Tidak hanya itu, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Wilayah terdampak meliputi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Sebagian sebaran asap bahkan terbawa pola angin sehingga meluas ke wilayah sekitarnya.

Hujan Lebat Masih Guyur Sumatra Utara Hingga Aceh

Meskipun kondisi atmosfer secara umum kering, BMKG menegaskan potensi hujan masih tetap ada.

Terutama, wilayah Sumatra bagian utara hingga tengah masih menerima curah hujan signifikan.

Pada periode 20-23 Agustus 2026, BMKG mencatat curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.

Sumatera Barat mencatatkan 125 mm/hari, Sumatera Utara 97 mm/hari, dan Aceh 88 mm/hari.

Kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal mempengaruhi kondisi ini, jelas BMKG.

Faktor tersebut antara lain aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial yang aktif di pesisir utara Aceh, terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra.

Kondisi itu mendukung peningkatan suplai uap air.

Selain itu, pemanasan permukaan, topografi, dan interaksi angin darat-laut juga turut memicu pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

BACA JUGA: Gempa Susulan M7,7 Flores Capai 4.258 Kejadian, BMKG Prediksi Berlangsung 4 Minggu

Prakiraan Agustus III – September II: Kemarau Masih Dominan

Memasuki sepekan ke depan, BMKG memprakirakan kondisi atmosfer masih cenderung kering.

Hal ini seiring El Niño kategori sangat kuat dan IOD positif yang masih bertahan.

Prakiraan curah hujan periode Agustus III–September II 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 mm/dasarian.

BMKG menyebut kategori rendah <50 mm/dasarian masih mendominasi sebagian besar wilayah.

Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua.

Dengan demikian, BMKG memprakirakan kecenderungan kering masih akan berlanjut, khususnya di wilayah yang sedang mengalami musim kemarau.

Rossby Ekuator dan Bibit Siklon Picu Potensi Hujan Lokal

Di tengah dominasi cuaca kering, dinamika atmosfer regional masih membuka peluang terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah.

Pertama, BMKG memprakirakan Gelombang Rossby Ekuator tetap aktif di sekitar Samudra Pasifik utara Papua, Maluku Utara, Laut Sulawesi, Sulawesi Utara, hingga pesisir utara Papua Barat Daya.

Kedua, keberadaan Bibit Siklon Tropis 97W di Samudra Pasifik utara Papua turut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di sekitar Papua hingga Laut Filipina.

Kondisi tersebut meningkatkan pengumpulan dan pengangkatan massa udara, sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Lebih lanjut, BMKG memprakirakan pembentukan daerah konvergensi juga terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, serta Papua bagian tengah dan pegunungan semakin memperkuat kondisi ini.

Dengan demikian, meskipun El Niño dan IOD positif mendominasi, potensi hujan dengan intensitas bervariasi tetap muncul secara lokal dan sporadis.

BACA JUGA: Dwikorita: Peringatan Dini Bukan Sekadar Informasi Tapi Seruan untuk Tindakan Nyata

Waspada Cuaca 25-31 Agustus: Dari Hujan Sedang hingga Angin Kencang

BMKG merinci prakiraan cuaca per periode sebagai berikut:

Periode 25 – 27 Agustus 2026

Hujan ringan hingga hujan sedang umumnya mendominasi cuaca di Indonesia.

Masyarakat perlu mewaspadai peningkatan hujan intensitas sedang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Periode 28 – 31 Agustus 2026

Kondisi cerah berawan hingga hujan lebat umumnya mendominasi cuaca.

BMKG mengimbau warga mewaspadai hujan intensitas sedang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini.

Hujan lebat hingga sangat lebat dengan kategori Siaga berpotensi terjadi di Papua Selatan.

Sementara itu, angin kencang berpotensi melanda Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Kilat/petir dan angin kencang juga dapat menyertai hujan lebat.

BACA JUGA: Misteri di Balik Langit Cerah: Apa yang Sebenarnya Menyebabkan Hujan Tiba-Tiba di Jawa Barat?

BMKG Imbau Hemat Air dan Hindari Bakar Lahan

Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi, BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi dampak cuaca panas dan udara kering.

“Masyarakat perlu menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” tulis BMKG dalam keterangannya.

Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

BMKG melarang masyarakat membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan rawan seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

BMKG juga meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.

Meskipun musim kemarau mendominasi, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun secara lokal dan memunculkan kilat/petir serta angin kencang.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir.

BMKG juga menyarankan agar masyarakat menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.

Terakhir, BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.

Dengan begitu, masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.    Red

Komentar