KABARHARMONI | BANDUNG, – Pernahkah Bapak/Ibu memperhatikan truk sampah yang lewat?
Atau mencium bau tidak sedap dari TPS atau Tempat Pembuangan Sementara di sekitar lingkungan kita?
Selama ini, kita terbiasa dengan pola “Kumpul-Angkut-Buang”.
Semua sampah, dari sisa sayur hingga popok bayi, dicampur menjadi satu dan diangkut ke TPS.
Akibatnya, TPS cepat penuh, bau, dan membebani truk pengangkut serta TPA kota.
Padahal, hampir 70% sampah rumah tangga kita adalah sampah yang bisa diolah di rumah.
Melalui gerakan dan program Kang Pisman, mari kita ubah pola pikir kita.
Sampah bukan lagi “beban”, melainkan “sumber daya” yang bisa dihabiskan di wilayah sendiri.
Bagaimana caranya?
Simak panduan memilah dan mengolah 3 jenis sampah berikut ini.
Sampah Organik: Target 100% Tidak ke TPS
Sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, sayur, dan daun merupakan penyumbang bau dan lindi atau air sampah terbesar.
Karena itu, targetnya adalah 100% tidak ke TPS.
Masyarakat bisa mengolahnya di rumah dengan cara berikut:
Pertama, Budidaya Maggot BSF.
Ini adalah cara paling cepat.
Maggot sangat rakus memakan sisa makanan, nasi basi, dan buah busuk.
Dalam sehari, 1 kg maggot bisa menghabiskan 1 kg sampah organik.
Bonusnya, maggot yang besar bisa jadi pakan gratis untuk ikan lele atau ayam di Buruan Sae.
Kedua, Buat Eco Enzyme dan MOL.
Caranya kumpulkan kulit buah seperti jeruk, nanas, dan pepaya serta sisa sayur.
Fermentasikan dengan gula merah dan air di dalam botol atau galon bekas.
Dalam 3 bulan, Anda akan mendapatkan cairan ajaib untuk pupuk tanaman, pembersih lantai, hingga pengusir hama.
Ketiga, Pengomposan.
Gunakan lubang kompos, bata terawang, atau drum.
Metode ini khusus untuk sampah kebun seperti daun kering dan ranting serta sisa sayur yang tidak dimakan maggot.
Masukkan ke lubang tanah atau wadah khusus, bolak-balik secara rutin, dan dalam 1-2 bulan Anda akan mendapat pupuk kompos yang subur untuk tanaman di pekarangan.
Keempat, Langsung ke Ternak.
Sisa nasi, sayur bening, atau ampas tahu yang masih bersih bisa langsung diberikan kepada ayam, bebek, atau kambing.
BACA JUGA: Pasirlayung Cibeunying Kidul Tuntaskan 560 Kg Sampah Organik Setiap Hari dengan Rumah Maggot
Ubah Sampah Anorganik Jadi Cuan Lewat Bank Sampah
Sampah anorganik meliputi plastik, kertas, logam, dan kaca.
Sampah ini tidak membusuk, tetapi memiliki nilai ekonomis.
Karena itu targetnya adalah masuk Bank Sampah, bukan dibuang ke TPS.
Langkahnya mudah.
Pisahkan dan Bersihkan.
Cuci bersih botol plastik, kaleng, atau kemasan makanan. Keringkan dan remukkan untuk menghemat tempat.
Selanjutnya Setor ke Bank Sampah atau Pemulung.
Kumpulkan sampah anorganik yang sudah bersih.
Setorkan ke Bank Sampah Unit atau BSU di RW atau kumpulkan untuk dijual ke pemulung.
Bonusnya, sampah berubah menjadi uang tabungan atau tambahan penghasilan ibu-ibu PKK.
Terakhir, lakukan Upcycling atau Daur Ulang Kreatif.
Botol bekas bisa dijadikan Ecobrick dengan mengisi sampah plastik lunak untuk dibuat kursi atau taman.
Botol bekas juga bisa jadi pot tanaman atau kerajinan tangan yang bernilai jual.
BACA JUGA: Inovasi Samber Ceu Pilah di Kelurahan Sarijadi: Mengubah Sampah Menjadi Berkah
Sampah Residu: Minimalisir, Baru Buang ke TPS
Sampah residu adalah sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang dan tidak bisa diolah secara mandiri.
Contohnya popok, pembalut, styrofoam, dan sampah terkontaminasi.
Targetnya adalah minimalisir, baru buang ke TPS.
Pertama, Kurangi Penggunaannya.
Mulailah beralih dari pembalut sekali pakai ke menstrual cup.
Kurangi penggunaan styrofoam untuk bungkus makanan, dan bawa tas belanja sendiri.
Kedua, Bungkus dengan Rapi.
Sampah residu seperti popok bayi harus dibungkus rapat dengan plastik bekas atau koran sebelum dibuang.
Hal ini bertujuan agar tidak mencemari lingkungan dan tidak mengganggu petugas kebersihan.
Ketiga, Hanya Ini yang ke TPS.
Ingat, HANYA sampah residu inilah yang boleh diangkut oleh petugas Gaslah ke TPS.
Jika kita berhasil memilah, volume sampah residu kita akan berkurang hingga 70%.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Proyek Pembangunan Ulang TPST untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Manfaat Besar Jika Kita Pilah Sampah dari Rumah
Mengapa kita harus melakukan ini?
Karena manfaatnya langsung terasa.
Pertama, Lingkungan Asri dan Sehat.
Tidak ada lagi bau busuk dan tumpukan lalat di depan rumah atau di TPS.
Kedua, Hemat Biaya.
Volume sampah yang dibuang ke TPS berkurang, sehingga potensi penghematan biaya retribusi sampah bisa dialokasikan untuk hal lain.
Ketiga, Dapat Cuan.
Keuntungan datang dari penjualan sampah anorganik ke Bank Sampah dan pemanfaatan pupuk serta maggot untuk Buruan Sae.
Keempat, Mendukung Kota Bandung.
Kita membantu mengurangi beban TPA Sarimukti dan mendukung instruksi Walikota Bandung tentang pengelolaan sampah mandiri.
Ayo Mulai dari Dapur Kita
Bapak/Ibu, perubahan besar dimulai dari langkah kecil di rumah kita sendiri.
Sediakan 3 wadah berbeda di dapur untuk Organik, Anorganik, dan Residu.
Ajak seluruh anggota keluarga untuk membiasakan memilah.
Mari kita buktikan bahwa Kota Bandung bisa menjadi kota yang bersih, sehat, dan ekonomis.
Ingat slogan kita: “Sampahku, Tanggung Jawabku! Olah di Sumber, TPS Lega, Lingkungan Asri!” Red







Komentar