KABARHARMONI | BANDUNG, – Kampoeng Rajoet di Kampung Wisata Kreatif Binong Jati kini tampil sebagai pionir pengelolaan sampah di Kota Bandung.
Melalui inovasi sederhana, masyarakat setempat berhasil menyulap botol plastik bekas menjadi benang yang memiliki nilai guna baru.
Upaya ini muncul sebagai jawaban atas persoalan sampah anorganik yang kian mendesak.
Selain mengurangi limbah, inovasi tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Kepedulian Warga Lahirkan Inovasi: Ubah Botol Plastik Jadi Benang
Pegiat Lingkungan Hidup Kelurahan Binong sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis, Wawan Setiawan, menjelaskan inovasi ini berawal dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
Warga mengumpulkan botol plastik dari aktivitas pengunjung dan rumah tangga.
Setelah itu, mereka menampungnya di “rumah botol” untuk diolah lebih lanjut.

“Karena kita ada di Kota Bandung, kebetulan di kewilayahan kita itu lagi menata lingkungan. Memang lagi viralnya kita Bandung itu memang lagi darurat sampah. Jadi kita bisa olah, terutama bekas botol minuman yang biasanya dibuang pengunjung, kita tampung di rumah botol, kita olah lagi, kita cacah lagi,” ujar Wawan, Selasa 11 Agustus 2026.
Warga memulai prosesnya dengan mengumpulkan dan memilah botol plastik.
Selanjutnya, mesin pencacah memproses botol tersebut menjadi serpihan kecil.
Dalam waktu sekitar 30 menit, mesin mengolah serpihan plastik itu menjadi bahan baku benang.
“Ini inovasi dari Pokdarwis untuk bisa mengolah sampah anorganik menjadi lebih bermanfaat,” tuturnya.
BACA JUGA: Wali Kota Farhan Dorong Kecamatan dan Kelurahan Bandung Berinovasi Kelola Sampah dari Rumah
Kurangi 100 Kg Sampah dan Dorong Ekonomi Sirkular
Tidak berhenti di situ, Kampoeng Rajoet juga menjalankan program bank sampah.
Tim memilah berbagai jenis sampah, mulai dari kardus hingga plastik.
Khusus untuk botol plastik, inovasi ini mampu mengurangi timbunan sampah hingga 100 kilogram per bulan.
Selain dampak lingkungan, program ini juga menghadirkan nilai ekonomi.
Sampah yang sebelumnya warga anggap tidak berguna kini bertransformasi menjadi produk dengan potensi pasar.
Konsep inilah yang mendorong penerapan ekonomi sirkular di wilayah tersebut.
Limbah yang tadinya berakhir di TPA kini kembali masuk ke rantai produksi sebagai bahan baku baru.
BACA JUGA: Pasirlayung Cibeunying Kidul Tuntaskan 560 Kg Sampah Organik Setiap Hari dengan Rumah Maggot
Tantangan Awal dan Dukungan Warga yang Kian Menguat
Wawan mengakui, penerimaan masyarakat terhadap program ini tidak datang secara instan.
Pada awalnya, sosialisasi menghadapi kendala, terutama karena keterbatasan sumber daya manusia.
Pro dan kontra pun sempat muncul di tengah warga.
Namun demikian, bukti nyata dari hasil karya perlahan mengubah pandangan masyarakat.
“Kalau kita sosialisasi ke masyarakat itu memang susah menyadarkan masyarakat. Tapi kalau diperlihatkan dengan hasil karya kita, ternyata semuanya sekarang sudah mulai mendukung,” katanya.
Lebih lanjut, munculnya nilai ekonomi dari pengolahan sampah membuat warga semakin tertarik untuk terlibat.
Dengan begitu, gerakan ini tidak hanya berjalan dari atas, tetapi juga tumbuh dari kesadaran kolektif warga.
BACA JUGA: Inovasi Samber Ceu Pilah di Kelurahan Sarijadi: Mengubah Sampah Menjadi Berkah
Jadi Inspirasi Pengelolaan Sampah untuk Kota Bandung
Ke depan, Wawan berharap inovasi di Kampoeng Rajoet dapat terus berkembang.
Ia juga ingin wilayah lain di Kota Bandung menjadikan tempat ini sebagai inspirasi dalam menghadapi krisis sampah.
“Semoga dengan hasil karya kita, Kampung Wisata Kreatif Rajad Binong Jati ini, dengan inovasinya, pengolahan sampah organik, dari botol plastik menjadi benang, menjadikan inspirasi untuk Kota Bandung,” pungkasnya.
Melalui langkah ini, Kampoeng Rajoet tidak hanya memproduksi kerajinan rajut.
Kawasan tersebut kini juga menjelma menjadi ruang edukasi dan praktik pemanfaatan kembali sampah.
Dari botol plastik yang semula menjadi limbah, kini lahir bahan baru yang dapat warga kembangkan menjadi berbagai karya bernilai. Red







Komentar