Batik Ciprat RW 07 Husein Sastranegara Tembus Tasikmalaya-Cimahi, Dongkrak Ekonomi Warga Cicendo

KABARHARMONI | BANDUNG, – Semangat melestarikan batik mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus tumbuh di tingkat kewilayahan.

Salah satu buktinya hadir melalui Batik Ciprat yang warga RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung kembangkan secara mandiri.

Berawal dari pelatihan membatik yang Sentra Wyata Guna gelar, Batik Ciprat kini warga kembangkan secara berkelanjutan.

Warga memproduksi batik berdasarkan pesanan, mulai dari kain, pakaian hingga ikat kepala.

Berawal dari Pelatihan, Kini Banjir Pesanan

Ketua Kelompok Batik Ciprat, Yuliana mengatakan, pelatihan tersebut menjadi titik awal bagi warga untuk mengubah keterampilan membatik menjadi kegiatan produktif yang bernilai ekonomi.

“Setelah pelatihan, kami diberikan modal dan diminta melanjutkan produksi di sini. Alhamdulillah sampai sekarang selalu ada pesanan,” ujar Yuliana.

Sejumlah produk Batik Ciprat RW 07 bahkan telah menembus pasar luar wilayah.

Yuliana menyebut pesanan datang dari berbagai daerah, di antaranya dari Tasikmalaya dan Cimahi.

Keunikan Batik Ciprat terletak pada proses pembuatannya yang khas.

Pengrajin membentuk motif dengan teknik ciprat menggunakan lilin, kemudian melanjutkan proses pewarnaan, pencucian, hingga penjemuran yang mereka lakukan beberapa kali.

Proses tersebut menggunakan waterglass sebagai pengunci warna agar hasil batik lebih kuat dan tidak mudah luntur.

Untuk harga, warga membanderol kain Batik Ciprat sekitar Rp130 ribu hingga Rp150 ribu, sedangkan produk berupa pakaian mulai dari sekitar Rp250 ribu.

BACA JUGA: Pemkot Bandung, PNM dan OJK Perkuat 115 Ribu UMKM Perempuan di PKU Akbar 2026

Pemerintah Kelurahan Dorong UMKM Jadi Motor Kemandirian

Pengembangan Batik Ciprat juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kelurahan Husein Sastranegara.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Husein Sastranegara, Iwan Achmad Setiawan menyebut, pemberdayaan UMKM menjadi salah satu upaya pemerintah kewilayahan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Setelah kami inventarisasi, ternyata ada potensi masyarakat yang bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi melalui UMKM. Salah satunya Batik Ciprat di RW 07,” kata Iwan.

Menurutnya, pemerintah kewilayahan turut mendorong pembentukan kelompok UMKM serta membuka akses informasi pelatihan kepada masyarakat secara luas.

Ia berharap pemberdayaan tersebut menjadi salah satu strategi ampuh untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, termasuk bagi masyarakat penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).

“Pemerintah kelurahan harus hadir di tengah masyarakat, melengkapi dan mendorong keinginan masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Gandeng Bank bjb Buka Keran Kredit UMKM Hingga Rp1,5 Miliar

Warga Antusias, Siap Kembangkan Pelatihan di Tiap RT

Antusiasme warga pun terlihat jelas dari tingginya keinginan masyarakat untuk mengikuti pelatihan serupa.

Ketua RW 07, Iyon Tahyan mengatakan, warga menyambut positif keberadaan Batik Ciprat dan berharap keterampilan membatik dapat semakin menyebar ke setiap RT.

“Warga sangat semangat. Bahkan yang belum mendapatkan pelatihan juga ingin ikut. Insyaallah ke depannya kami akan mendorong pelatihan di tiap RT agar ekonomi warga semakin meningkat dan sejahtera,” tuturnya.

Momentum Hari Batik Nasional yang masyarakat peringati setiap 2 Oktober menjadi pengingat bahwa batik tidak hanya tentang warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkarya dan menciptakan peluang ekonomi.

Dari RW 07 Husein Sastranegara, sehelai Batik Ciprat menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.     Red

Komentar