KABARHARMONI | BANDUNG, – Kolaborasi Kampus dan Pemkot Bandung Hadapi Tantangan Sampah: Inovasi dan Edukasi Menuju Bandung Bersih.
Inovasi Kolaborasi Atasi Sampah
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan siap membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengatasi permasalahan sampah.
Salah satunya dengan mewacanakan pelibatan mahasiswa membantu menangani sampah saat Kuliah Kerja Nyata (KKN).
BACA JUGA: Kolaborasi Pemkot Bandung dan ITB dalam Penanganan Sampah
Modal Besar Bandung
Brian menilai, Bandung memiliki modal kuat yaitu jejaring perguruan tinggi besar dan jumlah mahasiswa yang melimpah.
Oleh karenanya, kampus akan terlibat aktif dalam memetakan kebutuhan infrastruktur, mengkaji model bisnis, mengedukasi masyarakat, dan menerjunkan mahasiswa melalui KKN tematik.

“Kampus memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF, sampai rantai pasoknya. Setelah itu kita usulkan ke pemerintah pusat. Jadi tidak membebani APBD,” jelas Brian.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Perkuat Infrastruktur dan Pengelolaan Sampah dengan Anggaran Rp300 Miliar
Efisiensi dan Penerapan Nasional
Ia berpendapat, pendekatan ini jauh lebih efisien daripada membangun fasilitas waste to energy berskala besar yang bisa menelan biaya Rp2–3 triliun per unit.
“Kalau model ini berhasil di Bandung, tahun depan bisa diterapkan di seluruh kota di Indonesia,” katanya.
BACA JUGA: Kota Bandung Belajar dari Banyumas: Percepat Pengelolaan Sampah Menuju 80 Persen
Program Terintegrasi
Brian mengungkapkan, program rencananya ini akan melibatkan kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung, hingga unsur TNI–Polri. Untuk pengawasan, terutama di sektor horeka (hotel, restoran, kafe) dan pasar.
Pemerintah menyiapkan langkah penegakan hukum (gakum) dan memberikan insentif bagi pelaku usaha yang patuh.
“Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama,” ujarnya.
Tantangan dan Solusi
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memaparkan, saat ini, timbulan sampah mencapai 1.507,85 ton per hari.
Sekitar 60 persen berasal dari rumah tangga, dengan dominasi sisa makanan dan daun.
Kementerian Lingkungan Hidup mengevaluasi bahwa mereka baru mengelola, memilah, mengolah, dan memanfaatkan sekitar 21,63 persen sampah.
Sisanya masih mengalir ke TPA atau tercecer di lingkungan.
Mengubah Mindset

“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” sebut Farhan.
Ia juga menyoroti praktik pembuangan sampah liar di wilayah perbatasan dan kawasan tertentu. Termasuk keterlibatan oknum dalam rantai pengangkutan tidak resmi.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Proyek Pembangunan Ulang TPST untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Program Gaslah dan Sirkular Bandung Utama
Sebagai jawaban atas persoalan hulu, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).
Pemkot Bandung telah merekrut sebanyak 1.597 petugas Gaslah atau satu orang per RW. Untuk mengetuk pintu rumah warga, mengedukasi pemilahan, sekaligus mengangkut sampah organik.
Setiap petugas harus mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun untuk program ini dan memantau pelaksanaannya melalui dashboard digital real-time yang juga menjadi indikator kinerja camat dan lurah.
“Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” ujar Farhan.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Luncurkan Strategi Pemilahan Sampah di Tingkat RW untuk Atasi Krisis Sampah
Sirkular Ekonomi Bandung
Pemkot Bandung juga mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam satu ekosistem sirkular.
Pemkot mengolah sampah organik menjadi kompos/maggot, lalu menggunakannya untuk urban farming.
Warga memanfaatkan hasil panennya di dapur dan mengelola sisa dapur kembali.

“Inilah sirkular . Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi,” katanya.
Kunci Keberhasilan
Kunci keberhasilan, menurut Farhan, adalah menurunkan produksi sampah per orang.
Saat ini, warga Bandung menghasilkan rata-rata 0,58 kg sampah per hari.
Pemkot menargetkan pengurangan sampah di bawah 0,4 kg.
“Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” katanya. Red







Komentar