Dedi Mulyadi dan Farhan Resmikan Pusat Kebudayaan Tionghoa, Targetkan Jadi Destinasi Baru Bandung

KABARHARMONI | BANDUNG, Kota Bandung kini memiliki rumah baru bagi pelestarian budaya Tionghoa.

Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Indonesia resmi dibuka pada Selasa 25 Agustus 2026.

Kehadiran pusat ini Pemprov dan Pemkot Bandung harapkan tidak hanya menjadi ruang budaya, tetapi juga penguat kebhinekaan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat sekitar.

Peresmian berlangsung bersamaan dengan Perayaan Ulang Tahun Emas ke-50 Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) di Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Indonesia.

YDSP Wujudkan Kebhinekaan Lewat Pusat Kebudayaan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan hadir langsung dalam peresmian tersebut.

Ia menilai keberadaan pusat kebudayaan yang YDSP gagas menjadi bukti nyata keberagaman dapat hidup berdampingan.

“Hadirnya Pusat Kebudayaan Tionghoa di Kota Bandung ini yang merupakan karya dari YDSP. Yayasan ini menunjukkan bahwa kebhinekaan dari kebudayaan di Kota Bandung ini bisa menyatu dan melebur dengan warga sekitar,” kata Farhan.

Lebih lanjut, Farhan menegaskan Pemkot Bandung akan memastikan kawasan sekitar gedung memiliki infrastruktur pendukung yang memadai.

Dengan begitu masyarakat dapat memanfaatkan pusat kebudayaan secara optimal.

“Ini memang perlu pemanfaatan yang sangat optimal untuk masyarakat. Kami memastikan bahwa infrastruktur pendukung yang ada di sekelilingnya bisa dijaga, dirawat dan dibangun dengan baik,” ujarnya.

Dedi Mulyadi: Jangan Jadi Mercusuar, Harus Berdampak ke Warga

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pusat kebudayaan tersebut harus memberi manfaat langsung bagi warga.

Ia meminta gedung ini tidak hanya berdiri megah tanpa menyentuh kehidupan masyarakat sekitar.

“Gedung ini tidak boleh menjadi mercusuar yang semakin menjauhkan disparitas dengan lingkungan,” ujar Dedi.

Untuk itu, Dedi mengusulkan penataan kawasan secara menyeluruh.

Ia ingin pusat kebudayaan terintegrasi dengan lingkungan dan berkembang menjadi destinasi wisata baru di Bandung.

Dedi mencontohkan, akses menuju kawasan termasuk Gerbang Tol Pasir Koja dapat Pemprov hiasi dengan ornamen Tionghoa.

Selain itu, trotoar dan penerangan jalan dapat Pemkot tata dengan lampion.

Lingkungan permukiman di sekitarnya juga perlu Pemda rapikan agar lebih menarik.

BACA JUGA: Renovasi 500 Rutilahu di 4 Kecamatan dan 8 Kelurahan Kota Bandung, Tanpa Dana Negara

Dorong Warga Produktif Lewat Kuliner, Suvenir, dan Pagelaran

Tak hanya penataan fisik, Dedi mendorong pemberdayaan ekonomi warga sekitar.

Ia meminta warga mengikuti pelatihan kewirausahaan agar mampu menangkap peluang dari meningkatnya kunjungan wisata.

“Caranya masyarakat sekitarnya di didik bukan minta sumbangan tapi di didik punya produktivitas,” ungkapnya.

Warga dapat Pemprov ajarkan membuat kuliner khas, suvenir bernuansa Tionghoa, hingga keterampilan pemasaran.

Sebagai penggerak kunjungan, Dedi juga mengusulkan pagelaran budaya rutin.

Pertunjukan kolaborasi Sunda dan Tionghoa dapat menjadi daya tarik utama.

“Seminggu sekali, sebulan sekali dibikin pagelaran. Biar Pemprov yang biaya pagelarannya, enggak apa-apa, yang penting orang datang. Nanti pagelaran Sunda dengan Cina. Sunda dan Tiongkok,” katanya.

BACA JUGA: Festival Dulag Istimewa 1446 H di Bandung: Mewujudkan Kebersamaan dan Melestarikan Tradisi

Momentum Menguatkan Hubungan Budaya Sunda dan Tionghoa

Dedi menilai hubungan budaya Sunda dan Tionghoa sudah berlangsung lama di Jawa Barat.

Pengaruh itu terlihat dalam kuliner, bahasa, hingga tradisi masyarakat.

Oleh karena itu, ia menjadikan peresmian ini sebagai momentum memperkuat hubungan antarbudaya.

“Mari kita bangun peradaban ini dengan pendekatan kebudayaan,” ujarnya.

Ia berharap Pusat Kebudayaan Tionghoa menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan, pendidikan, pariwisata, kewirausahaan, dan ekonomi masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov Jawa Barat akan berkoordinasi dengan Pemkot Bandung untuk menata kawasan secara bertahap.

Penataan yang lebih baik ditargetkan mulai berjalan pada 2027.

“Semoga tempat ini menjadi tempat bagi peningkatan kualitas sumber daya masyarakat Jawa Barat dan Indonesia,” tutur Dedi.    Red

Komentar