Tekan Risiko Banjir, Pemkot Bandung Bangun 1.300 Sumur Imbuhan Dalam dan Perkuat Penghijauan

KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota Bandung tidak hanya mengandalkan pembangunan drainase dan rumah pompa untuk mengurangi risiko banjir.

Pemkot juga meningkatkan daya serap tanah melalui pembangunan sumur imbuhan dalam, sumur biopori, kolam retensi, serta penghijauan lahan kritis sebagai bagian dari strategi pengelolaan air hujan secara terpadu.

Rizki: Fokus Kami Kurangi Limpasan Air Hujan

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi, mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut berjalan secara berkelanjutan, termasuk selama musim kemarau.

Tujuannya agar tanah lebih banyak menyerap air hujan, menampung, atau mengalirkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan limpasan berlebihan.

“Dari awal tahun, pekerjaan kita itu fungsinya untuk menormalisasi drainase, membangun kolam retensi, membuat sumur imbuhan dalam, sumur biopori, dan berbagai upaya lainnya. Intinya untuk mengurangi limpasan air,” ujar Rizki di Balai Kota Bandung, Senin, 12 Oktober 2026.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Siapkan Kolam Retensi Besar, Butuh Rp800 Miliar untuk Bandung Selatan

DSDABM Sudah Bangun 1.300 Sumur Imbuhan Dalam

Rizki menjelaskan, DSDABM terus membangun sumur imbuhan dalam sebagai salah satu upaya utama.

Hingga Oktober 2026, DSDABM telah membangun sekitar 1.300 unit sumur imbuhan dalam yang tersebar di berbagai lokasi di Kota Bandung.

Fasilitas ini membantu meningkatkan peresapan air ke dalam tanah sebagai bagian dari pengelolaan limpasan hujan.

“Kalau lahan kritis terkena hujan, air dan tanah bisa melimpas. Itu yang menyebabkan sedimentasi. Makanya, kita perkuat dengan tanaman-tanaman yang berakar kuat sehingga air bisa lebih banyak meresap ke dalam tanah,” jelasnya.

Selain itu, DSDABM juga menggencarkan penanaman pohon di sejumlah kawasan sebagai bagian dari upaya tersebut.

Setelah melakukan penghijauan di wilayah Cihanja, DSDABM juga merencanakan penanaman lanjutan di kawasan Pasirwangi dan Ujungberung.

Lokasi penanaman di Ujungberung berbeda dari kegiatan sebelumnya.

Rizki menegaskan, pihaknya memfokuskan penghijauan di lahan kritis untuk meningkatkan fungsi resapan air.

Sementara itu, penanganan lingkungan dari aspek lain memerlukan kolaborasi dengan perangkat daerah terkait agar upaya pemulihan lingkungan berjalan lebih menyeluruh.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Kerahkan 200 Pemuda di Bandung Timur Buat 10.000 Sumur Resapan

Tantangan Cekungan dan Pentingnya Peran Warga

Rizki mengungkapkan, kondisi geografis Kota Bandung yang menyerupai cekungan ikut memengaruhi tantangan pengelolaan air.

Air dari kawasan yang lebih tinggi dapat mengalir ke wilayah kota, sementara kepadatan permukiman di sejumlah titik turut memengaruhi ruang resapan dan kapasitas saluran air.

Oleh karena itu, pemerintah harus menangani limpasan melalui berbagai pendekatan sekaligus, mulai dari memperbaiki saluran, menyiapkan tempat penampungan air, memperbanyak sarana resapan, hingga mengembalikan tutupan vegetasi di lahan kritis.

BACA JUGA: Atasi Sampah, Pemkot Bandung Bangun 220 Titik Pengolahan Baru Mulai Agustus

Rizki Imbau Warga Stop Buang Sampah ke Sungai

Rizki juga mengingatkan, keberhasilan upaya tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Berdasarkan kegiatan normalisasi, petugas masih banyak menemukan sampah rumah tangga di sejumlah drainase dan sungai sehingga menghambat aliran air.

“Kita sama-sama saling menjaga Kota Bandung. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah rumah tangga ke sungai ataupun drainase, memilah sampah dengan baik, dan menyiapkan tempat sampah tersendiri,” ujarnya.     Red

Komentar