KABARHARMONI | BANDUNG, – Sebanyak 38 frontliner dari 31 bank di Kota Bandung resmi menyelesaikan Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan ini bersamaan dengan Kick Off Bulan Literasi Keuangan 2026 di Bandung Creative Hub, Senin 18 Mei 2026.
Pelatihan ini menjadi langkah konkret memperkuat layanan keuangan inklusif bagi penyandang disabilitas di Bandung.
Selain meningkatkan kemampuan komunikasi petugas, program ini juga sejalan dengan upaya memperluas akses keuangan yang setara bagi seluruh warga.
Pemkot Bandung Apresiasi Kolaborasi Layanan Inklusif
Kepala Bagian Perekonomian Kota Bandung, Dicky Wishnumulya Ristandi, hadir mewakili Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada penutupan pelatihan.
Ia mengapresiasi sinergi OJK Jawa Barat, DILANS Indonesia, dan industri perbankan.

“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada OJK Jawa Barat, DILANS Indonesia, industri perbankan. Serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi melalui program ini,” ujarnya.
Dicky bicara. Menurut dia, kemajuan kota bukan cuma soal ekonomi.
Menurut dia, indikator penting kemajuan adalah sejauh mana seluruh warga merasakan kesetaraan akses dan keadilan.
Oleh karena itu, pelayanan publik yang bermartabat dan manusiawi harus menjadi prioritas
Ia menilai kemampuan frontliner berkomunikasi dengan Bisindo akan menciptakan layanan yang lebih ramah dan setara.

“Ketika petugas perbankan mampu melayani menggunakan Bisindo, yang terbangun bukan hanya transaksi. Tetapi juga rasa dihargai, diterima, dan memiliki tempat yang sama dalam kehidupan sosial maupun ekonomi,” katanya.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tekankan Pelayanan Adminduk Digital yang Inklusif dan Responsif
Dorongan Penyerapan Tenaga Kerja Disabilitas di Sektor Perbankan
Dicky memperkuat layanan. Dia juga menyoroti peluang kerja bagi penyandang disabilitas.
Ia mengingatkan bahwa sektor pemerintah wajib mempekerjakan minimal 2 persen tenaga kerja disabilitas, sedangkan sektor swasta 1 persen.
Ia berharap sektor perbankan dapat mengambil peran aktif dalam memenuhi ketentuan tersebut.
BACA JUGA: Kota Bandung Perkuat Inklusi: Penyandang Disabilitas Jadi Mitra Pembangunan
OJK Tekankan Inklusi Keuangan Sebagai Kewajiban, Bukan Imbauan
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menyatakan bahwa inklusi keuangan kini menjadi kewajiban seluruh lembaga jasa keuangan.
Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan OJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang kesetaraan akses bagi konsumen disabilitas.

“Ini bukan lagi sekadar imbauan, tetapi kewajiban. Perusahaan jasa keuangan harus mengintegrasikan inklusi ke dalam kebijakan inti mereka,” tegasnya.
Darwisman menjelaskan konsep layanan inklusif “SETARA” yang mencakup Setara, Empati, Tanggap, Aman, Ramah, dan Aksesibel.
Implementasinya meliputi infrastruktur fisik ramah disabilitas, layanan digital inklusif, peningkatan sensitivitas petugas, serta penyediaan dokumen dalam format Braille dan audio.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Kembali Raih Prestasi Membanggakan di Tingkat Nasional
Program DIA KITA Perkuat Literasi dan Akses Keuangan Disabilitas
Pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif “DIA KITA” atau Disabilitas Berdaya dan Keuangan Inklusif Tercipta.
OJK Jawa Barat menggandeng mitra untuk bikin program baru. Program ini melibatkan DILANS Indonesia. Tujuannya agar disabilitas melek keuangan. Mereka melatih disabilitas soal keuangan.
Selain pelatihan, DIA KITA juga menghadirkan edukasi keuangan berkelanjutan, media edukasi aksesibel, hingga program business matching.
Program ini bertujuan mendukung kemandirian ekonomi disabilitas melalui UMKM.
Darwisman juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan digital dan pinjaman online ilegal.
Ia mencatat Jawa Barat menerima lebih dari 4.800 aduan terkait investasi dan pinjol ilegal, tertinggi secara nasional.

“Jangan mudah tergiur keuntungan besar tanpa risiko. Itu pasti penipuan. Literasi keuangan menjadi benteng utama masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Perkuat RBM untuk Wujudkan Kota Inklusif Ramah Disabilitas
Bandung Progresif Dorong Kesetaraan Disabilitas
Farhan Helmy menilai kegiatan ini penting. Ini langkah nyata menuju kota inklusif.
Ia menyebut Bandung sebagai salah satu daerah progresif dalam mendorong kesetaraan bagi disabilitas dan lansia.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi gerakan nyata untuk memastikan disabilitas menjadi subjek pembangunan yang setara,” katanya.
Farhan menambahkan bahwa aksesibilitas fasilitas publik, integrasi kebijakan, dan pelibatan aktif penyandang disabilitas di sektor ekonomi dan keuangan menjadi kunci keberlanjutan program. Red







Komentar