KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mematangkan persiapan operasional Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.
Pemkot menargetkan fasilitas tersebut beroperasi akhir 2029 dan menjadi solusi utama pengganti TPA Sarimukti.
Selain menyiapkan armada khusus pengangkut sampah, Pemkot juga memperkuat upaya pengurangan dan pengolahan sampah dari hulu.
Dengan demikian, transisi dari TPA Sarimukti menuju Legok Nangka dapat berjalan optimal.
Komitmen Kirim 1.000 Ton Sampah Per Hari ke Legok Nangka
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Salman Faruq, menegaskan Pemkot Bandung berkomitmen memenuhi kesepakatan tahun 2021.
“Komitmen Kota Bandung sesuai yang sudah ditandatangani pada 2021 adalah mengirimkan sampah minimal 800 sampai 1.000 ton per hari ke Legok Nangka. Karena itu kami harus menyiapkan seluruh sarana pendukung, terutama armada pengangkut dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan persyaratan di sana,” ujar Salman, Selasa 4 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Salman menjelaskan sampah yang Pemkot kirim ke Legok Nangka berasal dari sampah domestik rumah tangga.
Namun DLH menargetkan hanya sampah residu hasil pemilahan yang masuk ke fasilitas tersebut.
“Kami terus menyiapkan sistem pemilahan. Harapannya, sampah yang masuk ke Legok Nangka benar-benar residu sehingga sesuai dengan ketentuan operasional yang ditetapkan,” katanya.
BACA JUGA: Tonggak Baru Bandung Raya: TPPAS Legok Nangka Siap Tampung 800 Ton Sampah Kota Bandung Mulai 2029
Siapkan 80-100 Armada Compactor untuk Medan Menanjak
Salah satu fokus utama persiapan terletak pada penyediaan armada pengangkut.
Lokasi Legok Nangka memiliki kontur jalan menanjak dan cukup curam sehingga membutuhkan spesifikasi khusus.
“Armadanya harus benar-benar fit karena akses menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor sehingga pengangkutan lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan air lindi dapat tertampung dengan baik,” jelas Salman.
Saat ini Pemkot Bandung telah memiliki sebagian armada tersebut.
Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, jumlah armada akan Pemkot tambah hingga mencapai sekitar 80 sampai 100 unit.
Selain melalui pengadaan daerah, DLH juga membuka peluang dukungan armada dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dukungan itu muncul melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda.
“Kami sudah memiliki sebagian armada. Ke depan akan terus ditambah. Bahkan ada rencana bantuan armada tertutup melalui Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Pemerintah Belanda,” ungkapnya.
BACA JUGA: Erwin: 12 unit Truk Pacman Beroperasi 2x Sehari di Kota Bandung
Optimalkan Pengurangan Sampah dari Hulu
Sembari menunggu Legok Nangka beroperasi, Pemkot Bandung tetap mengoptimalkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Berbagai upaya terus Pemkot lakukan, mulai dari edukasi pengurangan sampah rumah tangga dan kawasan komersial, pengolahan sampah organik, hingga penerapan berbagai teknologi pengolahan.
“Selama masa transisi ini, kami terus memaksimalkan pengurangan sampah di tingkat hulu, kemudian pengolahan di tingkat tengah maupun hilir. Tujuannya agar Kota Bandung semakin mandiri dalam mengelola sampah meskipun kuota ke Sarimukti masih dibatasi,” katanya.
Langkah tersebut menjadi sangat penting.
Sebab kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas sehingga Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada pembuangan akhir.
BACA JUGA: Wali Kota Farhan Dorong Kecamatan dan Kelurahan Bandung Berinovasi Kelola Sampah dari Rumah
Sarimukti Ditutup 2029, Alihkan ke Legok Nangka
Salman memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menutup TPA Sarimukti ketika Legok Nangka mulai beroperasi pada 2029.
“Kalau Legok Nangka sudah beroperasi, Sarimukti akan ditutup. Memang kondisinya sekarang sudah overload dan usia zona perluasannya juga sangat terbatas. Nantinya seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke Legok Nangka,” jelasnya.
Ia menambahkan saat ini kawasan Sarimukti sudah mengalami kelebihan kapasitas.
Sementara itu, zona perluasan yang sedang dimanfaatkan diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua tahun.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Tinjau Proyek Pembangunan Ulang TPST untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Uji Coba Teknologi BRIN dan Kondisi Saat Ini
Selain memperkuat sistem pengangkutan, DLH juga menguji teknologi pengolahan sampah organik bantuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Teknologi tersebut saat ini DLH tempatkan di enam kecamatan di Kota Bandung.
DLH akan mengevaluasi efektivitasnya sebelum memperluas ke wilayah lain.
“Kami sedang mengkaji efektivitas teknologi pengolahan organik dari BRIN. Kalau hasilnya baik dan cocok diterapkan di Kota Bandung, tentu akan kami perbanyak untuk pengolahan sampah organik skala komunal,” tutur Salman.
Di sisi lain, Salman menyebut kondisi pengelolaan sampah Kota Bandung saat ini masih relatif terkendali.
Cuaca yang memasuki musim kemarau membuat proses pengangkutan menuju TPA Sarimukti berjalan lebih lancar.
“Alhamdulillah pengangkutan ke Sarimukti saat ini berjalan lancar. Timbulan sampah yang diangkut sekitar 1.000 ton per hari dan tidak ada penumpukan yang signifikan di TPS,” ucap Salman.
Dengan persiapan matang tersebut, Pemkot Bandung optimis TPPAS Legok Nangka dapat beroperasi sesuai target dan mampu menyelesaikan persoalan sampah kota secara berkelanjutan. Red







Komentar