KABARHARMONI | BANDUNG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkuat kolaborasi penanganan sampah melalui monitoring dan pengecekan kondisi persampahan di kawasan bawah Jalan Layang Pasopati, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, pada Rabu (13/5/2026).
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, hadir mendampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman.
Selain itu, jajaran Kecamatan Bandung Wetan, para lurah dan RW, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), penyuluh sampah, serta akademisi dan praktisi dari ITB juga ikut dalam kegiatan tersebut.

BACA JUGA: Kolaborasi Pemkot Bandung dan ITB dalam Penanganan Sampah
ITB Siap Jadi Fasilitator Implementasi Teknologi Sampah
Wakil Rektor ITB, Agus Jatnika menyatakan kesiapan ITB menjadi fasilitator agar penanganan sampah di Kota Bandung tidak lagi berhenti pada wacana, tetapi segera masuk ke tahap implementasi nyata.
Agus menilai pemerintah dan masyarakat terlalu lama membahas persoalan sampah di Bandung tanpa eksekusi yang terukur.
Karena itu, ITB hadir untuk membantu penerapan berbagai teknologi pengolahan sampah yang selama ini ITB kembangkan di lingkungan kampus.
“Kalau wacana rasanya sudah puluhan tahun kita bicarakan. Sekarang tinggal bagaimana eksekusi. ITB diberi amanat menjadi fasilitator agar penanganan sampah ini bisa segera berjalan,” ujar Prof. Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D.
Masyarakat siap menerapkan berbagai inovasi pengolahan sampah.
Inovasi tersebut meliputi pemanfaatan styrofoam menjadi produk baru, pengolahan plastik menjadi brick block, hingga teknologi pengolahan sampah organik dan sistem ekonomi sirkular berbasis komunitas.
BACA JUGA: Pemkot Bandung dan Kampus Bersinergi Atasi Sampah: Inovasi dan Edukasi untuk Bandung Bersih
Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi Baru
Dosen SBM ITB, Melia Famiola menjelaskan tantangan terbesar bukan lagi pada teknologi, melainkan membangun kesadaran masyarakat agar memandang sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai manfaat ekonomi.
“Selama ini sampah masih dianggap masalah sosial dan kerja voluntarisme. Padahal sampah bisa menjadi raw material dan membuka ekonomi baru,” ujar Melia.
ITB saat ini mendorong konsep circular activator atau penggerak ekonomi sirkular berbasis komunitas dan startup.
Konsep tersebut terinspirasi dari pengembangan ekonomi sirkular di Melbourne, Australia, yang melibatkan perguruan tinggi dan masyarakat secara langsung.
Melia menguraikan bahwa kita harus membangun pengelolaan sampah dalam dua tahap.
Tahap pertama menyelesaikan persoalan jangka pendek berupa penumpukan sampah.
Tahap kedua membangun sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
“Sampah jangan lagi dilihat sebagai beban pemerintah semata, tetapi sebagai peluang ekonomi baru yang melibatkan masyarakat,” katanya.
Bandung Hadapi Tekanan 1.700 Ton Sampah Per Hari
Sekda Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain mengungkapkan, Kota Bandung saat ini menghadapi tekanan besar dalam pengelolaan sampah.
Produksi sampah harian Kota Bandung mencapai sekitar 1.600 hingga 1.700 ton per hari, sementara pengelola TPA Sarimukti hanya membatasi pengiriman sekitar 980 ton per hari.

“Kebayang sisanya mau dikemanakan. Itu menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Zul, sapaan akrabnya.
Pemkot Bandung telah menjalankan berbagai langkah seperti penyediaan insinerator, RDF, program Gaslah, komposter, hingga penguatan rekayasa sosial di tingkat kewilayahan.
Namun, tantangan terbesar saat ini tetap pada pengolahan akhir sampah setelah masyarakat memilah.
Iskandar mengapresiasi semangat masyarakat di tingkat kecamatan, kelurahan, dan RW yang mulai aktif menjalankan program pengolahan sampah mandiri, termasuk pembuatan kompos pit dan program urban farming melalui konsep “Karasa” dan “Buruan SAE”.

“Masalahnya sampah tidak bisa menunggu. Sampah terus datang setiap hari. Jadi kita harus bergerak lebih cepat,” katanya.
BACA JUGA: Pemkot Bandung Kaji Teknologi Autothermix, Sekda: Target Olah Sampah 50 Ton Per Hari
Inovasi “Apartemen Ayam dan Maggot” Jadi Solusi Komunitas
Akademisi ITB mendorong penguatan social engineering dan perubahan perilaku masyarakat.
Salah satu usulan yang muncul adalah membangun platform komunikasi atau aplikasi bersama antar pengelola sampah se-Kota Bandung agar wilayah lain dapat mereplikasi praktik-praktik baik di suatu wilayah.
Pemerintah juga mendorong penataan kawasan bawah Pasopati agar masyarakat tidak lagi memandang kawasan itu sebagai ‘ruang belakang’ kota. Tetapi menjadikannya etalase pengelolaan sampah modern berbasis komunitas.
Adlinus dari FMIPA ITB memaparkan praktik menarik berupa peternakan ayam dan budidaya maggot berbasis sampah organik di kawasan Pasirlayung.
Melalui sistem ‘apartemen ayam dan maggot’, warga mengolah sampah organik menjadi pakan maggot, lalu menggunakan maggot sebagai pakan ayam, sementara warga membagikan hasil telur. Sistem tersebut mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dari sampah menjadi gizi. Jadi ada ekonomi yang berputar di masyarakat,” ujarnya.
Pemkot Bandung menyambut positif model tersebut dan menilai wilayah lain, termasuk Tamansari yang memiliki keterbatasan lahan, berpotensi mereplikasi model ini. Red







Komentar